tajamati

A topnotch WordPress.com site

Perjalanan ke Timur

Pernah sekali waktu, saya menggantungkan nasib pada kapal yang berlayar ke Timur Indonesia. Menuju pulau pembuangan orang-orang tertentu di masa Orde Baru, tepatnya di Pulau Buru. Sempat terlintas jika pulau ini memang milik orang-orang terbuang, termasuk saya :(.

Tampak dari samudera Pulau Buru adalah pegunungan yang tandus, sedikit berbeda dengan pulau lainnya yang terlihat hijau atau Ambon yang makmur dengan cahaya lampu di malam hari. Pulau Buru seperti sebuah tempat misterius, buatku sangat asing dan …

Ketika memasukinya… saya ikut bersama rombongan penambang emas dari Sulawesi. Ya sudah beberapa bulan ini Pulau Buru diserbu oleh penambang. Kandungan emas yang cukup tinggi dan proses pengambilan yang mudah, menggoda orang-orang di kampung saya tuk berburu ke Pulau Buru. Bukan hanya dari Sulawesi, mereka datang dari berbagai penjuru, Maluku, Papua, Kalimantan, Tasikmalaya, Manado, Sangir dan sebagainya. Jadinya Pulau Buru sebagai pulau harapan yang tiba-tiba menggeliat mencari bentuk. Bentuk yang kelak mempertemukan mereka dengan sesuatu yang baru dan keramaian yang seketika.

Dari Nene (Orang Jawa transmigran yang rumahnya kami sewa) saya dapat gambaran jika masyarakat Buru hanya mengandalkan pertanian dan perikanan, interaksi penduduk asli (Orang Buru) dengan transmigran yang berjalan lambat. Ketika menyaksikan kehidupan di salah satu kampung, saya membayangkan kampung kami 20 tahun lalu. Akses sarana dan prasana yang masih terbatas. Asyik masyuk dengan kehidupannya sendiri, jauh dari hiruk pikuk kota apalagi pusat negara.

Begitu banyak yang terlibat di pulau ini. Orang Buru sendiri masih memilih dengan identitas mereka yang tetap waspada dengan pendatang. Tak heran di keseharian, mereka tak lepas dari tombak dan parang. Jauh di masa lalu dan negeri yang juga sangat jauh, saat Emas baru ditemukan, kekerasan tak bisa dihindari. Mungkin, karena persediaan yang terbatas dan terlalu banyak yang menginginkannya, Emas selalu identik dengan darah. Dan mungkin masih banyak alasan lainnya…

Pulau Buru

R (untuk Segen)

Aku telah benar melihat dengan nyata betapa pengecutnya kaum kami
Aku telah rasa sulit untuk menimbang kembali betapa kami berharga
Aku telah melihat kami lari saat harus berdiri
Aku telah menjadi kaum kami

Ada yang mati di tengah kami
itu karena kami tak pernah percaya sebelum melihat
Kami tak percaya angin
Sebab kami selalu menganggap mereka penipu

Puisi untuk Segen (usia belasan) yang terbaring di Pulau Buru yang jauh di sana. Dia tak harusnya mati, jika sifat pecundang tak melekat pada diri kami.

*****

Bulan di Mata Eva

Hanya ada satu Bulan yang mengitari bumi, namun tidak bagi Eva. Bulan Malam ini membagi diri dan terlihat berdampingan.

Perempuan itu menghadapi hidup seperti biasa. Orang-orang kadang hanya sekilas bergunjing tentang rumah tangganya yang gagal. Kadang memang dia larut dalam omongan orang disekitarnya, namun dia lebih memilih untuk menghindar. Suatu waktu pula dia bisa lupa dengan kepergian lelaki yang belum genap setahun bersama. Eva banyak melakukan kegiatan, mulai dari belajar tata boga di sebuah perkumpulan perempuan hingga menjadi aktifis lingkungan. Sebab kata seorang teman, kita punya kekuatan untuk meniadakan ingatan dan menggantinya dengan ingatan baru.

Hanya saja Lelakinya pergi tanpa sebab yang diketahui pasti. Eva tak mengerti, apalagi mereka yang diluar sana. Rumah tangga Eva adalah sasaran empuk berbagai gunjingan. Namun waktu juga kadang bisa mengubur kebiasaan menjadi kebosanan. Orang-orang lalu kehilangan akal sebab Eva masih begitu-begitu saja, masih sendiri dan tak ada lelaki lain yang mendekati. Orang-orang lupa tapi Eva tidak.

Malam itu, saat bulan Purnama, sehabis menuliskan beberapa kata dalam diari. Eva menuju beranda, lalu duduk menghadap rembulan. Hening sesaat, hanya hela nafasnya sendiri yang terdengar. Eva masih tak bisa mendengar kabar tentang lelakinya. Pertanyaan terbesar ketika seseorang kehilangan adalah dimana, bagaimana gerangan sang peneduh hati. Eva ingin menggugat tapi entah pada siapa. Bukankah seharusnya lelaki itu yang mendengar, tapi ia menghilang bak ditelan bumi. Bukankah lelaki itu yang harus berbicara. Eva diliputi duka, luka tentang mereka yang harus ditinggalkan dalam kebingungan.

Angin bertiup pelan, Eva masih memandangi langit. Di sana ada satu bulan, namun di mata Eva bulan telah terbelah… mengabur oleh air mata.

Ditulis di Ruang Acak
#Belajar Bercerita

The Rain

Sudah lama hujan tidak turun di kota ini. Sepertinya musim kemarau segera tiba, di sudut-sudut jalan rumput liar mulai menguning. Rerumputan selalu berubah warna saat tak ada lagi air pemasok kehidupan, walaupun ada diantaranya yang dapat bertahan dengan berbagai cara. Berpura-pura me-layu atau menyimpan generasi mereka di dalam tanah.

Aku sendiri takut hujan, namun tetap menyukainya. Bukan soal dingin yang dibawanya atau sebuah penjara tercipta dari tetesan panjangnya. Namun hujan telah mengasingkan diriku dari kehidupan, dari seseorang yang disebut kekasih.

Hujan di awal Januari 2010

Awal Januari 2010, saat datang pesan darinya. Saat itu pula hujan turun deras, menciptakan kerangkeng besar untukku. Apa yang kan kulakukan dengan sebuah pesan perpisahan dari sang kekasih. Hujan mungkin ingin menghiburku, ku dengar hujan berkata “dengarlah musik melantun dari atap-atap rumah yang kudatangi, aku tak tahu dengan orang-orang yang menghindariku, tapi aku akan menyanyikan lagu yang sama”

Nyanyian hujan ketika berhenti meninggalkan sebuah pesan perpisahan. Apa yang kau rasakan ketika hujan reda, kosong… dan kau berharap dia datang lagi. Inilah ingatan tentang hujan bagiku.

a Picture from My Bro!

Ini hasil jepretan kakak saya. Kakak lagi gandrung dengan kamera, dah banyak fotonya dipublish di FB. Saya suka yang satu ini, landskap di sebuah tempat di Bengkulu. Ini gambar selengkapnya.

i have long road to back home


Entah apa arti yang sebenarnya dari judul diatas? hehe saya juga tidak tahu, maksudna saya mau menyampaikan keinginan melakukan perjalanan kembali ke rumah, tapi english nya dah cocok apa belum?! begitulah!

dear pembaca… (mudah2an admin wordpress ini membacanya, bukan ingin berbicara khusus dengan dia. Tapi mungkin hanya dia yang liat blog ini… haha tentunya juga mereka yg tersesat di sini) beberapa hari ini keinginanku tuk melakukan perjalanan makin menggebu-gebu (bukk-bukk-bukkk begitulah bunyinya!!! :p) sudah lama keinginan meninggalkan dunia yang membosankan ini terpendam. Menjadi alien di muka bumi, bukanlah pekerjaan yang menyenangkan.

selanjutnya… apa? #apaliatliat

saya ingin ke gorontalo, bertemu norman kamaru! alah, bukan dia. Hanya saja hidup tanpa hasrat adalah hidup yang tak pantas dijalani. sekarang saya punya hasrat dan tak ingin melepaskannya lagi. kan kutuliskan kisah perjalanan ini, ya di dalam blog ini…

*ditulis di sebuah ruang acak di Makassar

Look my blog header!


Ini anak tetangga saya, namanya Rahmat (kanan) dan Bahar (Kiri). Keduanya tersenyum sangat simpul saat mau di foto. Tak ada anak kecil di rumah kami, sepupu- kecil dan ponakan semuanya jauh dari kampung. Saya suka bermain dengan mereka… hehe bukan karena penyakit doyan yg lain-lain pada anak kecil ya. Kami hanya bermain-main saja. pake kamera HP milik tetangga, kupotret keduanya.

Nanti kalo keduanya dah besar dan main internet, mudah2an fotonya masih ada… biar keduanya liat kalo mereka pernah berkawan akrab. hah yakin deh mesin pencari akan lebih canggih nanti, sebab blog ini mungkin hanya bakteri dalam perut cacing yang tumbuh di dalam cacing lainnya…

Ingin berdamai dengan Dunia

Awal tahun ini banyak hal telah terjadi dan cukup baru, aneh dan tak biasa kuhadapi. Entahlah waktu mungkin mengancam seseorang untuk cepat bertindak dengan apa yang dijalaninya. dan Masih ada keinginan untuk menuangkan kisah-kisah itu di blog ini. menceritakannya entah buat siapa saja yang tersesat di tempat ini.

Alienasi, he sampai saat ini aku tak paham benar dengan sebuah keterasingan. seseorang yang terbuang dari kehidupan, belum mati namun seperti menghilang. Tapi entah apa yang hilang, adakah sebuah kehilangan jika tak tahu apa yang dimilikinya.

Aku berada pada dunia yang tidak tahu siapa yang mengatakannya bahwa engkau telah kehilangan diri, terasing dari sebuah dunia. Dunia? dunia yang tak bisa kusebutkan siapa yang telah merancangnya. Dan telah mengatakan bahwa engkau meninggalkan jati dirimu, lupa asal-usulmu perlahan-lahan.

Aku berada di tempat yang jauh (ada yang menyebutnya ini tempat pengasingan yang paling terkenal) tukang koar-koar sebuah produk kapital, membuat orang-orang terlena dan terjebak.

Mungkin, ini sebuah kekejaman. Dan pada posisi lain telah menjadi pecundang di antara para pencinta kebenaran (siapa yang benar?).

Malam ini, wahai siapa pun yang tersesat, aku hanya ingin berdamai. Ya, sebab sulit untukku menentukan siapa yang paling benar. Namun, aku takut ada penderitaan diantara perjumpaan-perjumpaan kita. Ada penindasan, pengkhianatan atas kata cinta yang kita ucapkan. Mereka yang berada pada masa lalu, aku hanya ingin berdamai dengannya hari ini. Dalam wujud apa pun.

Ingin Menemukannya di Segala Arah

Sudah hampir seminggu pria itu mengubah arah hidupnya, bekerja disebuah tempat yang dulu sempat tak dibayangkannya. Menjadi seorang pedagang keliling sungguh bertolak belakang dengan cita-citanya tuk menjadi ilmuwan. HAH hidup selalu memberikan kejutan untukmu, pikirnya.

Akhirnya pria itu tetap berjalan, mendatangi setiap tempat berharap berjumpa dengannya, sebab kerinduan telah lama bersemayam di jiwanya.

Long time no See

Lama sudah tak melihatmu, adakah yang berubah kawan, masihkah kau menunggu. Mungkin seribu pertanyaan kan kolantarkan padamu, sebab banyak yang ingin kutahu, agar lebih dekat denganmu, apalagi sudah lama tak merasakan tatapanmu. Ceritakanlah perjalananmu kawan, sungguh lama waktu kita berpisah, sejauh itulah lika-liku kehidupan kau jalani.

Perpisahan, seperti episode yang berakhir, diantara kita. Apa perjumpaan, kisah yang kita jalin, begitu saja kau lupakan. Aku akui aku sempat melupakanmu kawan. Aku sebenarnya takut mengatakan ini. tapi aku yakin selalu ada tempat untuk mereka yang ingin pulang. haha naif sekali kawan.

Untukmu, kawanku, lama tak mendengar suara gitar dan nyanyian pelajaranmu. Iya, di beranda rumah itu, malam-malam kita duduk memandang bulan dan mulai menyanyikan lagu. lagu kehidupan, lagu perpisahan, lagu cinta dan kadang-kadang lagu pertemuan kembali.