tajamati

A topnotch WordPress.com site

Category: Uncategorized

Ingatan

Seringkali ingatan begitu menggangguku, dia datang dan membuat sedih kadang juga membuatku tertawa sendiri. Yang aku dapati pada akhirnya hanyalah duka. Betapa ingatan bagiku adalah luka. dan menuju gila.

Aku pernah percaya pada waktu akan menghapusnya. Kan kutebar disetiap detik, hinggu lupa, membuangnya jauh-jauh. Tapi hingga ujung masa pun, sebuah ingatan tak kan hilang. Begitu mengakar, seperti jutsu seorang ninja yang menghujam paru paruku. Beberapa orang kutemui melakukan hal ekstrim untuk menghilangkan ingatan. Bunuh diri atau menjadi gila.

Bagaimana jika ingatan menyangkut orang lain? apakah rindu adalah sebuah ingatan? aku takkan bunuh diri atau membunuh seseorang untuk menghilangkan ingatan. ya, mungkin sampai di sini aku belum gila. Tapi siapa yang akan hidup dengan ingatan yang buruk di masa depan.

akh… mungkin beberapa pertanyaan akan mengubah ingatan!

Advertisements

🙂 … Kabar baik! dan betapa menyenangkan membacanya…

Biblioklept

the-love-letter-1

View original post

Cemburu

Aku Cemburu
Pada kata yang terurai
Pada cinta yang terbebaskan

Aku Cemburu
Pada dia yang berani
Pada dia yang hidup tak sekadar kata

Sebab bersamanya
Cinta terlalu banyak diam
Cinta terlalu bungkam
Dan Cinta yang tak pernah cemburu

*Puisi memang hanya kata-kata, namun kata-kata tak begitu saja lahir. kata-kata ini untuk diriku dan dia yang sedang bercinta. Engkau berhak memperoleh cinta yang tak sekadar kata. Selamat bercinta teman!

a Picture from My Bro!

Ini hasil jepretan kakak saya. Kakak lagi gandrung dengan kamera, dah banyak fotonya dipublish di FB. Saya suka yang satu ini, landskap di sebuah tempat di Bengkulu. Ini gambar selengkapnya.

Ingin berdamai dengan Dunia

Awal tahun ini banyak hal telah terjadi dan cukup baru, aneh dan tak biasa kuhadapi. Entahlah waktu mungkin mengancam seseorang untuk cepat bertindak dengan apa yang dijalaninya. dan Masih ada keinginan untuk menuangkan kisah-kisah itu di blog ini. menceritakannya entah buat siapa saja yang tersesat di tempat ini.

Alienasi, he sampai saat ini aku tak paham benar dengan sebuah keterasingan. seseorang yang terbuang dari kehidupan, belum mati namun seperti menghilang. Tapi entah apa yang hilang, adakah sebuah kehilangan jika tak tahu apa yang dimilikinya.

Aku berada pada dunia yang tidak tahu siapa yang mengatakannya bahwa engkau telah kehilangan diri, terasing dari sebuah dunia. Dunia? dunia yang tak bisa kusebutkan siapa yang telah merancangnya. Dan telah mengatakan bahwa engkau meninggalkan jati dirimu, lupa asal-usulmu perlahan-lahan.

Aku berada di tempat yang jauh (ada yang menyebutnya ini tempat pengasingan yang paling terkenal) tukang koar-koar sebuah produk kapital, membuat orang-orang terlena dan terjebak.

Mungkin, ini sebuah kekejaman. Dan pada posisi lain telah menjadi pecundang di antara para pencinta kebenaran (siapa yang benar?).

Malam ini, wahai siapa pun yang tersesat, aku hanya ingin berdamai. Ya, sebab sulit untukku menentukan siapa yang paling benar. Namun, aku takut ada penderitaan diantara perjumpaan-perjumpaan kita. Ada penindasan, pengkhianatan atas kata cinta yang kita ucapkan. Mereka yang berada pada masa lalu, aku hanya ingin berdamai dengannya hari ini. Dalam wujud apa pun.

Ingin Menemukannya di Segala Arah

Sudah hampir seminggu pria itu mengubah arah hidupnya, bekerja disebuah tempat yang dulu sempat tak dibayangkannya. Menjadi seorang pedagang keliling sungguh bertolak belakang dengan cita-citanya tuk menjadi ilmuwan. HAH hidup selalu memberikan kejutan untukmu, pikirnya.

Akhirnya pria itu tetap berjalan, mendatangi setiap tempat berharap berjumpa dengannya, sebab kerinduan telah lama bersemayam di jiwanya.

Long time no See

Lama sudah tak melihatmu, adakah yang berubah kawan, masihkah kau menunggu. Mungkin seribu pertanyaan kan kolantarkan padamu, sebab banyak yang ingin kutahu, agar lebih dekat denganmu, apalagi sudah lama tak merasakan tatapanmu. Ceritakanlah perjalananmu kawan, sungguh lama waktu kita berpisah, sejauh itulah lika-liku kehidupan kau jalani.

Perpisahan, seperti episode yang berakhir, diantara kita. Apa perjumpaan, kisah yang kita jalin, begitu saja kau lupakan. Aku akui aku sempat melupakanmu kawan. Aku sebenarnya takut mengatakan ini. tapi aku yakin selalu ada tempat untuk mereka yang ingin pulang. haha naif sekali kawan.

Untukmu, kawanku, lama tak mendengar suara gitar dan nyanyian pelajaranmu. Iya, di beranda rumah itu, malam-malam kita duduk memandang bulan dan mulai menyanyikan lagu. lagu kehidupan, lagu perpisahan, lagu cinta dan kadang-kadang lagu pertemuan kembali.

Kerinduan yang Lusuh

Hanya mengabarkan padamu, angin
Aku punya kerinduan yang Lusuh, untukmu

Belajar tentang Rasa

Bagaimana tentang orang-orang yang menikmati musik mereka saat diatas panggung, bagaimana tentang orang-orang yang memandangi tulisan dengan takjub, dan bagaimana dengan gerakan orang-orang yang seolah tak mau berhenti menari. Ini semua tentang rasa, rasa yang membuat mereka mencintai.

Rasalah yang membuat masakan menjadi tidak hambar, tidak sekedar sampah yang memasuki lambung tengah. Rasalah yang menciptakan kerinduan. Rasa menciptakan wangi yang berbeda, seperti Tuhan yang menciptakan manusia, tak ada yang sama.

Akan Kunikmati Amarah, Gelisah dan Ketakutan ini Sendiri

Cukup sudah mendapati diri dalam ketidakberdayaan,
Kebahagiaan milik kita masing-masing
Tak kan ada yang memaksa atau terpaksa

JIka kau membaca ini maka saat itulah semuanya menjadi asing
Akan kunikmati Amarah, Gelisah dan Ketakutan ini Sendiri