tajamati

A topnotch WordPress.com site

Category: Kisah-Kisah

Recantation of Hendra Setiawan

Sudah lama bahkan bertahun-tahun aku menyimpan hati yang beku, sejak Marlin memutuskan hubungan kami. Segenap raga seolah bersiap dengan kekosongan, otak memikirkan bagaimana hal itu bisa terjadi. Aku menyusuri setiap memori, apa yang salah di sana? Sebagaimana pasangan yang sedang memadu kasih, aku bersemangat di hari awal kami berpacaran. Cinta tumbuh dari hari ke hari. Kami berjanji untuk saling menjaga cinta agar tetap ada pada diri kami hingga selamanya. Namun, waktu jugalah yang mempertemukan kami pada kebosanan, apa yang menarik tiba-tiba saja menjadi hampa.  Marlin mulai jatuh cinta pada pria lain, apa yang tak ditemui pada diriku mulai diungkapnya satu per satu. Pertengkaran terjadi, dan amarah mendapatkan tempat terbaik diantara kebuntuan. Dan hari itu, disaat aku memandang wajah tercantik Marlin, dia memutuskan hubungan kami. Aku membutuhkan waktu untuk menerima apa yang terjadi, tentu dengan wajah yang lusuh.

Cinta tiba-tiba saja menjadi soal yang paling rumit kutemukan dalam hidup. Entah ada kemajuan ataukah tidak, aku semakin terbenam dalam ketakutan akut. Ada yang menyebutnya trauma, ya mungkin saja ini semacam trauma di mana kamu tidak bisa jatuh cinta lagi. Ada yang mencoba menggantikan posisi Marlin, tapi perlahan mundur bahkan kadang aku menghadapinya lebih agresif menolak. Ada kisah di tempat kami, ketika seseorang terlalu banyak menolak cinta maka cinta akan menjauhinya. Mungkin inilah yang terjadi, kejahatan menolak cinta membuat hati tertutup, beku dan sedikit kejam…. kejam. Hasilnya adalah engkau menjomblo dari hari ke tahun.

Dan sebuah ketidakpahaman akan menjadi kelindan tak berujung. Dan saat itu pula sebuah nasehat akan sangat berguna bagi dirimu. Begitu banyak orang yang memuja cinta, mereka terlahir menjadi pujangga, filosof dan bahkan kiyai. Dan ada pula tak perlu menyandang nama besar, seperti sahabatku Lim, dia selalu jatuh cinta, pacarnya banyak. Apa ini sebuah hipnosis? Pernah aku menontonnya di televisi, seseorang bisa lama tertidur jika tak dibangunkan. Seringkali aku melihat Marlin melambaikan tangan memintaku kembali. Kumasuki ruang-ruang mimpi di mana hidup menjadi lebih indah bersamanya. Marlin adalah zahirku. Marlin menghipnotisku.

Mimpi tak selalu beriringan dengan kenyataan. Dosenku pernah bilang masalah terjadi bila keinginan tak sesuai dengan realita. Hipotesa yang sederhana dan mengikat hampir setiap sendi kehidupan. Begitulah yang terjadi antara aku dan Marlin, aku menciptakan Limbo untuknya, sebuah tempat di mana aku bisa bersama dia selamanya.  Aku melangkah ke puncak tertinggi mimpi dan tak ada yang bisa membangunkanku untuk bertahun-tahun lamanya. Sementara kehidupan berjalan dengan kesunyian yang mencekam.

Bukankah pertanyaan kapan nikah? Itu adalah sebuah ironi, untuk pria berumur ini menjadi sebuah lelucon di negeri kami, Indonesia. Eh, ini bukan dalam rangka membasmi lajang tua di bumi nusantara, ini sebuah cerita tentang pria yang bisa tersadar dan merasakan cinta. Setelah lama ‘mati’ kehidupan menjadi sesuatu yang sangat berharga. Apa yang hilang dalam diri, perlahan menumbuhkannya kembali. Aku berusaha tuk jatuh cinta, sebab tak ada obat mujarab untuk menikmati angin yang berhembus, air dingin di pegunungan, macet di kota, menulis dan hal lainnya yang bisa kutemukan dalam hidup. Seseorang harus menajamkan setiap inderanya, meresapi setiap tarikan nafas. Dan saat bersamaan Cinta tumbuh dan menjaga seseorang lebih berada dalam dunia.

Sekali lagi, lihatlah para pecinta, Shakespeare, Kahlil Gibran, Rumi, Imam khomeini, dan juga Lim. Mereka punya cinta, terlepas bagaimana mereka memahaminya. Dan hari ini, di awal musim kemarau, aku … Hendra Setiawan mengakui kesalahan masa lalu dan menyatakan siap jatuh cinta lagi.

 

 

Bone-Bone, 27 Agustus 2014

(maybe this a positivist view about love) :p

Advertisements

Lagi dan semoga tak bosan

Saya ingin jadi penulis, itu cita-cita lama, mungkin juga mulai usang. Masih teringat jelas, saat itu saya berhasil membuat seisi kelas di sekolah menengah pertama terpingkal-pingkal oleh puisi lucu karangan sendiri. Setelah baris terakhir puisi dadakan itu, Saya terdiam sesaat mengarkan suara tawa menggema di ruang kelas. Saya sangat menikmati Dan hari itu saya ingin menuliskan banyak khayalan-khayalanku, membuat orang-orang bahagia.
Saya menyukai sastra, mengejar jiwa seni menulis hingga bangku kuliah. Tapi, lajur hidup tak selamanya lurus, hal kecil bisa saja dan bahkan telah mengubah hidup. Saya lulus di jurusan Komunikasi yang kukira bagian fakultas sastra. Itu adalah sospol, sosial politik… yang tak pernah ada dalam daftar cita-citaku.
Berada pada jalur asing membuatku seperti berjalan dalam gelap. Saya bukanlah pria yang cepat beradaptasi. Butuh waktu lama untuk menikmati jalan hidup yang untuk sekian lama kuanggap sebagai lorong kecil.
Bagai kuldesak, hari hari saya seperti orang kebingungan. Dan beberapa saat kutularkan pada orang-orang di sekitarku. Mungkin, kebingungan pada diri sendiri berada di wilayah tergelap yang saya sendiri dan orang lain tak tahu. Tersembunyi dan menjadi racun yang menyebar diam-diam. Ataukah hanya aku yang tak tahu.
Saya pernah punya kekasih dan saya ingin minta maaf padanya karena sempat bersentuhan dengan kebingungan yang kumiliki. Sekarang dia telah pergi dan semoga menemukan jalan lurus kembali.
Saya masih ingat, saya membuat puisi lain saat di sekolah menengah pertama. Sebuah puisi romantis, kurasa itu tak cocok untuk sekolah menengah pertama. Hingga saat kembali dari depan kelas, duduk di bangku pojok kelas. Teman sebangku bertanya padaku kenapa puisi lucu itu yang kau bacakan? Saya tak bisa menjawab apa-apa, kukira itu hanya naluri saja.
Adakah yang bisa disesali dari pilihan-pilihan hidup. Untukku ya, sebab kadang memang ada jalan buntu, jalan berputar-putar, dan segerahlah keluar.
Hari ini saya mau menulis, menulis ingatan, menandai jalan, dan semoga tak bingung lagi.

Bidin

Mata lelaki itu masih melekat, memperhatikan apakah ada yang salah dengan anyamannya. Sedari pagi, bambu-bambu dipotong dan dihaluskan, dipisahkan dalam dua bagian, satu panjang dan satunya lagi agak panjang. Kesalahan awal menyusun bisa berakibat fatal pada anyaman. Saya sudah mencoba mengikutinya, hasilnya 5 kali percobaan, bongkar ulang untuk sebuah anyaman yang kelak jadi baki. Tampak sederhana dan ternyata prakteknya sulit.

Mbah Bani, kami berkenalan saat saya dan rombongan pekerja tambang memilih ngontrak di rumahnya. Usianya tercermin dengan panggilan Mbah yang setahu saya adalah panggilan dalam budaya Jawa untuk kakek atau nenek. Mbah Bani tidak sendiri tinggal di rumah ini, ada seorang anak kecil usianya sekitar 11 tahun, namanya Bidin. Bidin adalah cucu Mbah dari anak lelaki nomor dua, Ibu Bidin meninggal saat Bidin berusia setahun. Ayah Bidin menikah lagi, dan dari cerita Mbah, Istri anaknya tak begitu menyukai Bidin. Suami istri itu atas desakan istrinya lebih memilih kembali ke Jawa. Jadinya Mbah Bani menjadi Ayah, Ibu, Kakek, sekaligus teman bermain Bidin. Anak Mbah yang lain, ada 4 orang, sudah punya rumah dan keluarga sendiri. Kadang mereka berkunjung sekali-kali.

Mbah Bani kadangkala membantu pekerjaan kami, dia begitu bersemangat dan saking bersemangatnya, hutan dipinggiran desa yang jaraknya hampir dua kilo di tunjuknya seperti menunjuk warung kopi sejarak tiga rumahan. Namun, kadangkala dia begitu muram, interaksi dua budaya yang berbeda seringkali menimbulkan konflik, itu terjadi di antara kami dengan Mbah Bani. Mbah Bani dengan kelembutan Jawa dan kami yang ramai, bersuara keras, seringkali bercanda fisik yang berlebihan bisa miskomunikasi kapan saja. Tapi untuk urusan ini, Mbah melakukannya dengan bijak. Ketika salah seorang diantara kami berbuat kesalahan, mengajak selingkuhannya menginap di rumah, Mbah Bani tidak langsung melaporkannya ke RT setempat. Mbah memilih menghubungi teman kami yang lebih tua dan mulai membicarakan penyelesaiannya.

Sebuah pemahaman bisa saja termakan waktu, kami dan Mbah Bani perlahan mulai melebur. Kami mulai tak asing dengan karakter dan suasana di rumah Mbah. Namun, begitulah ada yang selalu sulit di lakukan dengan pemahaman. Untuk kami, hal itu adalah Bidin.

Bidin tak seperti anak lainnya, dia mengalami gangguan berbicara dan pikiran yang lambat. Untuk anak seusianya, Bidin aktif bermain. Namun, dari pandangan kami yang katanya  masih normal, permainan Bidin sungguh aneh. Bangun tidur, Bidin menghampiri gelas-gelas kami dan mencoba meminum kopi panas kami, jika berhasil mendapatkan gelas, isinya langsung amblas dalam sekali teguk. Sudah itu Bidin keluar rumah dan mulai menangkapi anak ayam dan anak itik milik kakeknya. Bidin melakukannya dengan penuh suka cita. Kami dan Mbah yang merasa dikerjai Bidin mulai kehilangan kesabaran.

Sulit berbicara dengan Bidin, bahasa Bidin cenderung bahasa tubuh. Jikalau pun ada bahasa lisan itu diciptakannya sendiri. Bahasa pengajaran (lebih pada hukuman atas perbuatan Bidin) akhirnya berujung pada kekerasan fisik pada Bidin. Ketua rombongan penambang pernah memperingati seorang teman karena terlalu memanjakan Bidin. Kekhawatiran itu muncul untuk melindungi orang-orang dari keusilan Bidin. Pikirnya Bidin akan semakin berbuat sesuka hatinya dan akan menyusahkan, mengganggu ketentraman kami. Mbah Bani juga pernah berbicara langsung dengan teman yang lembut itu, jika dalam situasi tertentu untuk tak segan-segan memukul Bidin. Yang berarti kekerasan diperbolehkan untuk Bidin.

Entah mungkin suatu bentuk perlawanan, atau memang keasyikan dunia Bidin, pernah dia hampir membuat rumah terbakar habis. Penyebabnya korek api yang lepas dari pengamatan orang-orang, diambil Bidin dan mulai membakar terpal di kamar Mbah Bani. Untunglah salah seorang penambang melihat dan segera menghentikan aksi Bidin.

Rumah bukan hanya pertentangan Bidin, Mbah Bani dan para penambang. Hari-hari di rumah juga diselingi canda tawa, Bidin pelakunya. Dia pandai sekali mengikuti gerakan Kuda Lumping, ini menjadi hiburan di rumah yang 90% adalah laki-laki. Seperti pula, saat kami, yang lebih muda belajar anyaman. Sedikit-sedikit belajar bahasa Jawa dari Mbah dan juga berbagi teknik membangun rumah kayu. Mbah mempersilahkan kami menikmati jeruk dan sayur pare manis di belakang rumah. Urusan masak sepenuhnya dilakukan penambang. Mbah sangat menyukai santan, Penambang menyukai tumisan pedas, dan Bidin menyukai semuanya. Dapur memang kekuasaan penambang, tapi bukan berarti sayur santan tak pernah tersaji.

Keramaian di rumah Mbah seperti tiba-tiba saja terjadi. Mbah bercerita soal lambatnya perekonomian Pulau Buru. Ayah Bidin yang sepertinya mewarisi rumah, meninggalkan kampung karena sulitnya mendapat pekerjaan. Sawah-sawah lebih banyak menganggur jika pun ada hanya milik mereka yang punya modal cukup. Untuk menjadi buruh, Ayah Bidin tak sanggup, apalagi untuk memenuhi kebutuhan istri Ayah Bidin yang katanya berasal dari kota.

Keramaian itu tidak terjadi di rumah Mbah saja. Di unit lainnya, rumah-rumah yang sepi, rumah kosong, atau pun halaman disulap menjadi kontrakan untuk penambang yang saban hari makin bertambah saja. Pulau Buru memang berubah ramai sejak tambang emas dibuka awal tahun 2012 lalu.

 

*Upt kkn, saat berlangsung pertandingan Real Madrid vs MU (Kamis,14/02/2013)

 

Perjalanan ke Timur

Pernah sekali waktu, saya menggantungkan nasib pada kapal yang berlayar ke Timur Indonesia. Menuju pulau pembuangan orang-orang tertentu di masa Orde Baru, tepatnya di Pulau Buru. Sempat terlintas jika pulau ini memang milik orang-orang terbuang, termasuk saya :(.

Tampak dari samudera Pulau Buru adalah pegunungan yang tandus, sedikit berbeda dengan pulau lainnya yang terlihat hijau atau Ambon yang makmur dengan cahaya lampu di malam hari. Pulau Buru seperti sebuah tempat misterius, buatku sangat asing dan …

Ketika memasukinya… saya ikut bersama rombongan penambang emas dari Sulawesi. Ya sudah beberapa bulan ini Pulau Buru diserbu oleh penambang. Kandungan emas yang cukup tinggi dan proses pengambilan yang mudah, menggoda orang-orang di kampung saya tuk berburu ke Pulau Buru. Bukan hanya dari Sulawesi, mereka datang dari berbagai penjuru, Maluku, Papua, Kalimantan, Tasikmalaya, Manado, Sangir dan sebagainya. Jadinya Pulau Buru sebagai pulau harapan yang tiba-tiba menggeliat mencari bentuk. Bentuk yang kelak mempertemukan mereka dengan sesuatu yang baru dan keramaian yang seketika.

Dari Nene (Orang Jawa transmigran yang rumahnya kami sewa) saya dapat gambaran jika masyarakat Buru hanya mengandalkan pertanian dan perikanan, interaksi penduduk asli (Orang Buru) dengan transmigran yang berjalan lambat. Ketika menyaksikan kehidupan di salah satu kampung, saya membayangkan kampung kami 20 tahun lalu. Akses sarana dan prasana yang masih terbatas. Asyik masyuk dengan kehidupannya sendiri, jauh dari hiruk pikuk kota apalagi pusat negara.

Begitu banyak yang terlibat di pulau ini. Orang Buru sendiri masih memilih dengan identitas mereka yang tetap waspada dengan pendatang. Tak heran di keseharian, mereka tak lepas dari tombak dan parang. Jauh di masa lalu dan negeri yang juga sangat jauh, saat Emas baru ditemukan, kekerasan tak bisa dihindari. Mungkin, karena persediaan yang terbatas dan terlalu banyak yang menginginkannya, Emas selalu identik dengan darah. Dan mungkin masih banyak alasan lainnya…

Pulau Buru

R (untuk Segen)

Aku telah benar melihat dengan nyata betapa pengecutnya kaum kami
Aku telah rasa sulit untuk menimbang kembali betapa kami berharga
Aku telah melihat kami lari saat harus berdiri
Aku telah menjadi kaum kami

Ada yang mati di tengah kami
itu karena kami tak pernah percaya sebelum melihat
Kami tak percaya angin
Sebab kami selalu menganggap mereka penipu

Puisi untuk Segen (usia belasan) yang terbaring di Pulau Buru yang jauh di sana. Dia tak harusnya mati, jika sifat pecundang tak melekat pada diri kami.

*****

Bulan di Mata Eva

Hanya ada satu Bulan yang mengitari bumi, namun tidak bagi Eva. Bulan Malam ini membagi diri dan terlihat berdampingan.

Perempuan itu menghadapi hidup seperti biasa. Orang-orang kadang hanya sekilas bergunjing tentang rumah tangganya yang gagal. Kadang memang dia larut dalam omongan orang disekitarnya, namun dia lebih memilih untuk menghindar. Suatu waktu pula dia bisa lupa dengan kepergian lelaki yang belum genap setahun bersama. Eva banyak melakukan kegiatan, mulai dari belajar tata boga di sebuah perkumpulan perempuan hingga menjadi aktifis lingkungan. Sebab kata seorang teman, kita punya kekuatan untuk meniadakan ingatan dan menggantinya dengan ingatan baru.

Hanya saja Lelakinya pergi tanpa sebab yang diketahui pasti. Eva tak mengerti, apalagi mereka yang diluar sana. Rumah tangga Eva adalah sasaran empuk berbagai gunjingan. Namun waktu juga kadang bisa mengubur kebiasaan menjadi kebosanan. Orang-orang lalu kehilangan akal sebab Eva masih begitu-begitu saja, masih sendiri dan tak ada lelaki lain yang mendekati. Orang-orang lupa tapi Eva tidak.

Malam itu, saat bulan Purnama, sehabis menuliskan beberapa kata dalam diari. Eva menuju beranda, lalu duduk menghadap rembulan. Hening sesaat, hanya hela nafasnya sendiri yang terdengar. Eva masih tak bisa mendengar kabar tentang lelakinya. Pertanyaan terbesar ketika seseorang kehilangan adalah dimana, bagaimana gerangan sang peneduh hati. Eva ingin menggugat tapi entah pada siapa. Bukankah seharusnya lelaki itu yang mendengar, tapi ia menghilang bak ditelan bumi. Bukankah lelaki itu yang harus berbicara. Eva diliputi duka, luka tentang mereka yang harus ditinggalkan dalam kebingungan.

Angin bertiup pelan, Eva masih memandangi langit. Di sana ada satu bulan, namun di mata Eva bulan telah terbelah… mengabur oleh air mata.

Ditulis di Ruang Acak
#Belajar Bercerita