tajamati

A topnotch WordPress.com site

Category: Home

wpid-2013-09-02-09.21.00.jpg

Hari ini kami merenovasi kamar mandi Mbah Bani. Saya tidak tahu banyak soal pertukangan, untuk urusan ini saya jadi kuli sajalah. Atau setidaknya jadi seksi dukomentasi. Sebenarnya diantara kami, ada delapan orang, tak ada yang benar-benar ahli soal pertukangan. Kepala tukang terpilih kepada mereka yang punya pengalaman, tentunya pernah jadi buruh atau paling tidak dia […]

Bidin

Mata lelaki itu masih melekat, memperhatikan apakah ada yang salah dengan anyamannya. Sedari pagi, bambu-bambu dipotong dan dihaluskan, dipisahkan dalam dua bagian, satu panjang dan satunya lagi agak panjang. Kesalahan awal menyusun bisa berakibat fatal pada anyaman. Saya sudah mencoba mengikutinya, hasilnya 5 kali percobaan, bongkar ulang untuk sebuah anyaman yang kelak jadi baki. Tampak sederhana dan ternyata prakteknya sulit.

Mbah Bani, kami berkenalan saat saya dan rombongan pekerja tambang memilih ngontrak di rumahnya. Usianya tercermin dengan panggilan Mbah yang setahu saya adalah panggilan dalam budaya Jawa untuk kakek atau nenek. Mbah Bani tidak sendiri tinggal di rumah ini, ada seorang anak kecil usianya sekitar 11 tahun, namanya Bidin. Bidin adalah cucu Mbah dari anak lelaki nomor dua, Ibu Bidin meninggal saat Bidin berusia setahun. Ayah Bidin menikah lagi, dan dari cerita Mbah, Istri anaknya tak begitu menyukai Bidin. Suami istri itu atas desakan istrinya lebih memilih kembali ke Jawa. Jadinya Mbah Bani menjadi Ayah, Ibu, Kakek, sekaligus teman bermain Bidin. Anak Mbah yang lain, ada 4 orang, sudah punya rumah dan keluarga sendiri. Kadang mereka berkunjung sekali-kali.

Mbah Bani kadangkala membantu pekerjaan kami, dia begitu bersemangat dan saking bersemangatnya, hutan dipinggiran desa yang jaraknya hampir dua kilo di tunjuknya seperti menunjuk warung kopi sejarak tiga rumahan. Namun, kadangkala dia begitu muram, interaksi dua budaya yang berbeda seringkali menimbulkan konflik, itu terjadi di antara kami dengan Mbah Bani. Mbah Bani dengan kelembutan Jawa dan kami yang ramai, bersuara keras, seringkali bercanda fisik yang berlebihan bisa miskomunikasi kapan saja. Tapi untuk urusan ini, Mbah melakukannya dengan bijak. Ketika salah seorang diantara kami berbuat kesalahan, mengajak selingkuhannya menginap di rumah, Mbah Bani tidak langsung melaporkannya ke RT setempat. Mbah memilih menghubungi teman kami yang lebih tua dan mulai membicarakan penyelesaiannya.

Sebuah pemahaman bisa saja termakan waktu, kami dan Mbah Bani perlahan mulai melebur. Kami mulai tak asing dengan karakter dan suasana di rumah Mbah. Namun, begitulah ada yang selalu sulit di lakukan dengan pemahaman. Untuk kami, hal itu adalah Bidin.

Bidin tak seperti anak lainnya, dia mengalami gangguan berbicara dan pikiran yang lambat. Untuk anak seusianya, Bidin aktif bermain. Namun, dari pandangan kami yang katanya  masih normal, permainan Bidin sungguh aneh. Bangun tidur, Bidin menghampiri gelas-gelas kami dan mencoba meminum kopi panas kami, jika berhasil mendapatkan gelas, isinya langsung amblas dalam sekali teguk. Sudah itu Bidin keluar rumah dan mulai menangkapi anak ayam dan anak itik milik kakeknya. Bidin melakukannya dengan penuh suka cita. Kami dan Mbah yang merasa dikerjai Bidin mulai kehilangan kesabaran.

Sulit berbicara dengan Bidin, bahasa Bidin cenderung bahasa tubuh. Jikalau pun ada bahasa lisan itu diciptakannya sendiri. Bahasa pengajaran (lebih pada hukuman atas perbuatan Bidin) akhirnya berujung pada kekerasan fisik pada Bidin. Ketua rombongan penambang pernah memperingati seorang teman karena terlalu memanjakan Bidin. Kekhawatiran itu muncul untuk melindungi orang-orang dari keusilan Bidin. Pikirnya Bidin akan semakin berbuat sesuka hatinya dan akan menyusahkan, mengganggu ketentraman kami. Mbah Bani juga pernah berbicara langsung dengan teman yang lembut itu, jika dalam situasi tertentu untuk tak segan-segan memukul Bidin. Yang berarti kekerasan diperbolehkan untuk Bidin.

Entah mungkin suatu bentuk perlawanan, atau memang keasyikan dunia Bidin, pernah dia hampir membuat rumah terbakar habis. Penyebabnya korek api yang lepas dari pengamatan orang-orang, diambil Bidin dan mulai membakar terpal di kamar Mbah Bani. Untunglah salah seorang penambang melihat dan segera menghentikan aksi Bidin.

Rumah bukan hanya pertentangan Bidin, Mbah Bani dan para penambang. Hari-hari di rumah juga diselingi canda tawa, Bidin pelakunya. Dia pandai sekali mengikuti gerakan Kuda Lumping, ini menjadi hiburan di rumah yang 90% adalah laki-laki. Seperti pula, saat kami, yang lebih muda belajar anyaman. Sedikit-sedikit belajar bahasa Jawa dari Mbah dan juga berbagi teknik membangun rumah kayu. Mbah mempersilahkan kami menikmati jeruk dan sayur pare manis di belakang rumah. Urusan masak sepenuhnya dilakukan penambang. Mbah sangat menyukai santan, Penambang menyukai tumisan pedas, dan Bidin menyukai semuanya. Dapur memang kekuasaan penambang, tapi bukan berarti sayur santan tak pernah tersaji.

Keramaian di rumah Mbah seperti tiba-tiba saja terjadi. Mbah bercerita soal lambatnya perekonomian Pulau Buru. Ayah Bidin yang sepertinya mewarisi rumah, meninggalkan kampung karena sulitnya mendapat pekerjaan. Sawah-sawah lebih banyak menganggur jika pun ada hanya milik mereka yang punya modal cukup. Untuk menjadi buruh, Ayah Bidin tak sanggup, apalagi untuk memenuhi kebutuhan istri Ayah Bidin yang katanya berasal dari kota.

Keramaian itu tidak terjadi di rumah Mbah saja. Di unit lainnya, rumah-rumah yang sepi, rumah kosong, atau pun halaman disulap menjadi kontrakan untuk penambang yang saban hari makin bertambah saja. Pulau Buru memang berubah ramai sejak tambang emas dibuka awal tahun 2012 lalu.

 

*Upt kkn, saat berlangsung pertandingan Real Madrid vs MU (Kamis,14/02/2013)

 

i have long road to back home


Entah apa arti yang sebenarnya dari judul diatas? hehe saya juga tidak tahu, maksudna saya mau menyampaikan keinginan melakukan perjalanan kembali ke rumah, tapi english nya dah cocok apa belum?! begitulah!

dear pembaca… (mudah2an admin wordpress ini membacanya, bukan ingin berbicara khusus dengan dia. Tapi mungkin hanya dia yang liat blog ini… haha tentunya juga mereka yg tersesat di sini) beberapa hari ini keinginanku tuk melakukan perjalanan makin menggebu-gebu (bukk-bukk-bukkk begitulah bunyinya!!! :p) sudah lama keinginan meninggalkan dunia yang membosankan ini terpendam. Menjadi alien di muka bumi, bukanlah pekerjaan yang menyenangkan.

selanjutnya… apa? #apaliatliat

saya ingin ke gorontalo, bertemu norman kamaru! alah, bukan dia. Hanya saja hidup tanpa hasrat adalah hidup yang tak pantas dijalani. sekarang saya punya hasrat dan tak ingin melepaskannya lagi. kan kutuliskan kisah perjalanan ini, ya di dalam blog ini…

*ditulis di sebuah ruang acak di Makassar

Look my blog header!


Ini anak tetangga saya, namanya Rahmat (kanan) dan Bahar (Kiri). Keduanya tersenyum sangat simpul saat mau di foto. Tak ada anak kecil di rumah kami, sepupu- kecil dan ponakan semuanya jauh dari kampung. Saya suka bermain dengan mereka… hehe bukan karena penyakit doyan yg lain-lain pada anak kecil ya. Kami hanya bermain-main saja. pake kamera HP milik tetangga, kupotret keduanya.

Nanti kalo keduanya dah besar dan main internet, mudah2an fotonya masih ada… biar keduanya liat kalo mereka pernah berkawan akrab. hah yakin deh mesin pencari akan lebih canggih nanti, sebab blog ini mungkin hanya bakteri dalam perut cacing yang tumbuh di dalam cacing lainnya…

Doa Subuh Bapak

Sangat jarang aku menemui Subuh. Hanya saat tertentu saja aku menjumpainya, seperti ketika menjadi mahasiswa baru, hukuman dari kakak senior akan kudapatkan bila tidak secepatnya sudah harus di jalan depan kampus kami dulu. Atau pada saat shalat idul fitri, segera menyambut syawal, mandi pagi lalu secepatnya ke masjid Ibu yang selalu membangunkan kami anak-anaknya untuk. Aku tak tahan dengan dinginnya udara subuh, jikalau kuhitung maka setiap subuh adalah gerutu bagiku.

Namun subuh itu, di hari ketiga lebaran saya terbangun dengan teramat segar, padahal tidurku baru saja dimulai. Tak seperti biasanya suasana ini kurasakan. Lebaran kali ini kami hanya bertiga Bapak, Ibu dan saya sendiri, saudara-saudaraku yang lain berada di rumah lain, jauh disana. Aku bergegas ke kamar kecil di ujung kanan. Saat itulah aku melihat bapak juga sudah bangun, tampaknya bapak sudah siap ke Masjid, lengkap sudah dengan kopiah andalanya. Tak ada sepatah kata pun saat kami berpas-pasan, saya terus saja berjalan menuju kamar kecil ketika terdengar derik pintu depan, Bapakku sudah keluar rumah. Adzan sudah dimulai, sementara di kamar Bapak-Ibu tak ada tanda Ibu akan bangun.

Seolah kami kaum lelaki sepakat untuk tidak mengganggu tidur ibu di subuh itu. Ibu seharian bekerja keras menyiapkan pesta syukuran tetangga, beliau pasti sangat lelah hari ini. Ibulah sebenarnya yang membawa suasana religi di rumah kami. Hampir tiap malam beliau mengaji, mengingatkan kami, saya dan bapakku jika lupa bahkan pura-pura lupa untuk shalat. Absen shalat subuh sekali-kali aku pikir tidak apa buat ibu, toh sudah lama Mesjid tidak diisi oleh perempuan. Kaum perempuan di desaku termasuk ibu lebih suka shalat di rumah, walaupun ada hijab yang disediakan, perempuan hanya hadir di masjid seperti shalat lebaran kemarin.

Adzan sudah pertengahan, aku bergegas mengambil wudhu dan berlari kecil menuju masjid. Bapak belum mencapai masjid, kurasa rematik dan asam urat membuatnya makin melambat di usianya yang mulai senja. Bukan perkara sulit untukku mendahuluinya, tapi niat itu kuurungkan, aku tetap dibelakangnya, memandang langkah-langkah kecilnya. Ingatan kemudian membawaku dimana Bapak menjadi mandor di perusahaan rotan, bapak sangat kuat, rotan berkilo-kilo diangkatnya sendiri. Mungkin inilah cerita waktu, beralih-alih hidup kemudian mati. Seperti aku yang muda berjalan dibelakang Bapak yang mulai termakan umur.

Berbeda dengan Ibu, bapak punya bekal ilmu agama kalau mau dibilang pas-pasan. Aku sering mendengar Ibu mengajarinya menghapal surat-surat pendek. Sejak sakit itu menggorogotinya, bapak lebih banyak shalat sendirian, itu pun dilakukannya dengan duduk, surat-surat itu wajib dibacanya. Diawal menikah dengan Ibu hingga lahir anaknya yang keempat, Bapak lebih banyak menghabiskan waktunya di perantauan. Kadang Ibu ikut dengannya, tapi paling hanya setahun selebihnya Bapak hidup sendiri. Akhirnya Bapak Ibu dapat berkumpul setelah perusahaan tempat Bapak bekerja gulung tikar akibat rotan yang makin punah. Dan kesempatan mengenal agama pun baru didapatkannya saat itu.

Entah apa yang terjadi pada Ibuku, kepulangan bapak terasa biasa-biasa saja. Seringkali Ibu mencurahkan isi hatinya, kegundahan ditinggalkan Bapak cukup lama. Bapak lebih banyak diam di hadapan kami. Bapak dan Ibu memang sangat pandai menyembunyikan pertengkaran mereka. Entahlah mereka punya cara sendiri untuk bertengkar. Cerita pun berputar, Ibu yang masih kuat walaupun rentan sakit, memilih bekerja di pertambangan tradisional di daerah yang jauh. Akhirnya Bapak yang sebelumnya sering meninggalkan kami, kini menjadi penghuni satu-satunya di rumah. Lebaran kali ini pun tidak berhasil mempertemukan semua anggota keluarga. Hanya saya anaknya yang belum bekerja dan berkeluarga yang mudik ke kampung halaman.

Ibu tampak makin tidak tahan dengan keadaan yang dihadapinya. Bapak seperti pria bodoh yang dinikahinya. Seperti ada ancaman dan penyesalan di setiap ucapan ibu ketika membicarakan Bapak. Saat makan malam berlangsung, Ibu lebih banyak bicara, Bapak lebih banyak diam. Namun amarah pun tak terbendung, Bapak tak menerima pernyataan Ibu, dibentaknya Ibu lalu bergegas masuk ke kamar. Aku hanya diam, seumur-umur inilah pertama kali aku melihat pertengkaran mereka.

Ramadan berlalu, Syawal pun telah menuju pertengahan. Subuh itulah aku melihat Bapak coba menghimpun kekuatannya kembali. Jarak masjid tidak terlalu jauh dari rumah kami, tapi melihat langkah bapak sepertinya kami akan ketinggalan qamat muaddzin. Aku tetap tak berani mendahului bapak, masuk ke pintu masjid pun tidak, apalagi mengambil saf di depannya. Saat pulang saya tetap berada dibelakangnya. Tak sepatah kata keluar dari kami, hanya diam saja.

Udara makin dingin, beberapa tetangga yang bekerja sebagai pedagang mulai sibuk. Tapi kesenyapan lebih berkuasa atas kampung kami saat subuh, aktifitas manusia saat subuh belum mampu mengalahkannya.
Aku tak mengerti Bapak, mungkinkah dia sedang menjalankan terapi ataukah ia sedang melanjutkan pelajaran agamanya. Pernah Bapak bilang padaku kalau segala ucapan Ibu adalah sabda baginya, sebab dia begitu mencintai Ibu. Ataukah ini adalah perjalanan spiritual bapak, manifesto keimanan di kala kematian semakin mendekat. Tapi mengapa Bapak hanya memilih subuh untuk ke Masjid? Bukankah dia bisa melakukannya saat shalat Isya atau Maghrib juga. Aku masih memikirkannya saat terdengar tawa kecil Ibu dan Bapak dari kamar mereka. Bapak telah membangunkan Ibu untuk mengambil wudhu. Mungkinkah itu akhir Doa subuh bapak, sebab saat itu dia mencoba menjadi imam di keluarga kami.

Tuhan apakah esok saat terbangun di pagi hari jiwa-jiwa tak berubah…???

Sebab kulihat ruang dan waktu berubah.

Berubah; Desain Blogku

hehe… akhirnya bisa juga mengganti header blog yang lama. Ini sudah lama terencana namun baru beberapa hari lalu saya menyelesaikan desainnya. Bagaimana desain headernya masih jelek ya? setidaknya ini sedikit perwujudan akan rencana-rencana, yang mungkin hampir usang.

Ada beberapa hal yang berubah dari rencana awal. Tadinya gambar orang itu adalah sekeping atau dua potong coklat (kue coklat) tapi gambarnya nda dapat2 maunya sih gambar original, coklat asli yang saya potret. Jadi narsisus deh…

Membuat blog bukan perkara yang susah untuk saat ini. Modalnya cuman keinginan belajar dari banyaknya turorial yang ada di internet. link tutorialnya? ketik saja di google, Insya Allah beliau akan menunjukkan caranya. Beberapa tema blog wordpress sendiri makin memudahkan pengguna awam mendesain blognya. Seperti blog ini (tema ‘Neat’) di dashboard kita bisa mengutak-atik header melalui menu samping kiri ‘appearance’ trus masuk ke pilihan ‘header’. Khusus blog ini saya upload gambar sendiri, yang didesain pake coreldraw dan photoshop. Ya inilah perubahan pada blog ini.

 

Bunga di Halaman Rumah Kami

Kembali buka-buka arsip foto lebaran kemarin, saat itu bunga-bunga yang ditanam ibu kami sedang bermekaran.

Tanda Cinta di Bunga?

Aku tidak banyak tahu nama-nama bunga, apa ada yang tahu nama bunga yang ada d blog ini?

Ada merah di ujungnya...

Ini lagi…

Ungu

Ada lagi satu,

Buah Tomat yang ikut mekar...hehe

Sekarang bunga-bunga ini mulai berguguran, ada malah yang mati. Mungkin umur mereka pendek atau tak ada lagi yang merawat bunga-bunga itu. Sejak ibu meninggalkan rumah (biasanya berbulan-bulan di tempat kerjanya) tak ada yang mengurus taman kecil di halaman rumah kami. Hanya ibu dan adik perempuanku yang pandai merawat bunga-bunga itu, kami anak lelaki hanya jadi pengagumnya. Bunga dan perempuan-perempuan di keluarga kami… hehe