tajamati

A topnotch WordPress.com site

Category: Bisik-bisik

Lagi dan semoga tak bosan

Saya ingin jadi penulis, itu cita-cita lama, mungkin juga mulai usang. Masih teringat jelas, saat itu saya berhasil membuat seisi kelas di sekolah menengah pertama terpingkal-pingkal oleh puisi lucu karangan sendiri. Setelah baris terakhir puisi dadakan itu, Saya terdiam sesaat mengarkan suara tawa menggema di ruang kelas. Saya sangat menikmati Dan hari itu saya ingin menuliskan banyak khayalan-khayalanku, membuat orang-orang bahagia.
Saya menyukai sastra, mengejar jiwa seni menulis hingga bangku kuliah. Tapi, lajur hidup tak selamanya lurus, hal kecil bisa saja dan bahkan telah mengubah hidup. Saya lulus di jurusan Komunikasi yang kukira bagian fakultas sastra. Itu adalah sospol, sosial politik… yang tak pernah ada dalam daftar cita-citaku.
Berada pada jalur asing membuatku seperti berjalan dalam gelap. Saya bukanlah pria yang cepat beradaptasi. Butuh waktu lama untuk menikmati jalan hidup yang untuk sekian lama kuanggap sebagai lorong kecil.
Bagai kuldesak, hari hari saya seperti orang kebingungan. Dan beberapa saat kutularkan pada orang-orang di sekitarku. Mungkin, kebingungan pada diri sendiri berada di wilayah tergelap yang saya sendiri dan orang lain tak tahu. Tersembunyi dan menjadi racun yang menyebar diam-diam. Ataukah hanya aku yang tak tahu.
Saya pernah punya kekasih dan saya ingin minta maaf padanya karena sempat bersentuhan dengan kebingungan yang kumiliki. Sekarang dia telah pergi dan semoga menemukan jalan lurus kembali.
Saya masih ingat, saya membuat puisi lain saat di sekolah menengah pertama. Sebuah puisi romantis, kurasa itu tak cocok untuk sekolah menengah pertama. Hingga saat kembali dari depan kelas, duduk di bangku pojok kelas. Teman sebangku bertanya padaku kenapa puisi lucu itu yang kau bacakan? Saya tak bisa menjawab apa-apa, kukira itu hanya naluri saja.
Adakah yang bisa disesali dari pilihan-pilihan hidup. Untukku ya, sebab kadang memang ada jalan buntu, jalan berputar-putar, dan segerahlah keluar.
Hari ini saya mau menulis, menulis ingatan, menandai jalan, dan semoga tak bingung lagi.

Advertisements

KM Gunung Dempo

Ketika KM Gunung Dempo berlayar, aku tahu ada banyak hal yang kan tertinggal, tak ubahnya aku dengan mereka yang menyingkir dari hiruk pikuk kota. Entah ini sebuah pilihan atau bukan, tak kan akrab lagi dengan social media. Catatan harian kembali kepada bentuknya yang klasik.

Tapi dunia melaju tak dapat kuhindarkan, mungkin saat kembali. Aku akan berteman akrab lagi dengan teknologi informasi. Saat itu mungkin akan jauh lebih rumit, perkembangan yang tak tertahankan. Jika pun aku telah terjebak, hilang di belantara komunikasi, aku ingin rehat sejenak.
Sekali lagi entah ini pilihan atau tidak. Atau apakah ini sebuah langkah mundur? hidup tak ter-up date lagi.

Tapi dunia ini terlalu rumit. Ini dunia yang seharusnya membuat seseorang lebih hebat. ya, betapa kota akan menyeleksi orang-orang. Yang terhebatlah yang kan muncul.

Ketika KM Gunung Dempo berlayar. Semuanya kembali menjadi teka-teki. Bukankah seseorang selalu menantikan jawaban sebuah teka-teki. Kehidupan sehari-hari di kota yang kujalani, yang sebentar lagi kutinggalkan, bagaikan sebuah teka-teki yang jawabnya akan kutelusuri saat pulang. Dan ini pilihan atau tidak, aku yang menjauh tak sepenuhnya bisa terlepas.

kapal ke empat, semoga aku bisa berangkat, dan kuharap kapal ini mengantarkan ku pada Mbah Bani dan Bidin di Pulau Buru. Ini hanya omongan pada diri sendiri agar bisa menyiapkan diri dengan baik. Beberapa perjalanan tertunda karena hati yang masih berat meninggalkan kenyamanan.

Abstain

Dulu, saat SD, saya membayangkan sebuah bangsa yang damai, aman dan makmur dimana saya hidup didalamnya. Buku pelajaran dan guru menceritakan pengetahuan itu dan kurekam dengan baik-baik. Namun kadangkala ingatan itu hilang bersama berlalunya waktu. saya yang kecil dulu belum bisa berpartisipasi, sekarang dengan usia yang cukup, diikutkan menentukan suara. Suara yang penting untuk bangsa, setidaknya itu ajakan beberapa gambar, baliho dan iklan di sekitarku.

Ketika hari ini datang sebuah undangan untuk pemilihan gubernur Sulsel. Ingatan itu muncul lagi. Saya selalu takut jika diperhadapkan pada sebuah pilihan. Ya bisa dikatakan takut salah pilih atau malah takut tak dapat mengikuti pemimpin yang saya pilih itu ke depannya. Sebab, jika menafsirkan bahasa tentang pemimpin, yang ada adalah sosok yang memiliki sikap dan tentu tingkah laku, yang tercermin dari pemahaman akan kebenaran dan keadilan. Kadang pemimpin ini mengklaim telah mewujudkan bangsa impian saya itu, namun realitasnya masih jauh. Mungkin kita merasa aman damai dan makmur namun jauh dari kebenaran dan keadilan, malah terjadi pembodohan besar-besaran. Dan mana mungkin menuntut kebenaran dan keadilan dalam keadaan bodoh.

Memasuki bilik suara dan mencoblos gambar calon pemimpin itu, memang gampang (kan!). Tapi ingatan tentang perwujudan bangsa yang makmur, aman, damai dan sejahtera butuh pertimbangan (bertapa juga boleh!). Setidaknya, saya harus mengetahui siapa-siapa mereka yang berani mengajukan diri. Ada tiga (3) pasangan saat ini. No.1 IA, no.2 Sayang dan No.3 GarudaNA (saya tak menyebutkan nama aslinya karena mereka lebih sering dan senang menyebut dirinya dengan inisial). No.1 adalah pasangan walikota dan tokoh agama, dalam kampanye mereka mengusung semangat baru, entah semangat dari mana sehingga dinamakan semangat baru. Mungkin saat ini jaman Baterei jadi perlu cazz (charge) jika terjadi lowbatt  mereka inilah energi barunya. Pertanyaannya kemudian adalah darimana kita mengetahui bahwa mereka benar-benar baru. Sang walikota masih memimpin kota Makassar dengan segala keruwetan transportasi yang mulai muncul. Dan tata kota yang dipenuhi ruko. Menyulap ruang-ruang publik beraroma bisnis.

Selanjutnya No.2, dia masih jadi Gubernur dan menginginkannya lagi. Masa baktinya digunakan dengan sebaik-baiknya untuk membangun jaringan keluarga. Klaimnya dalam kampanye kemarin, tak ada kasus korupsi yang pernah terjadi dengan dan bawahannya. Padahal baru saja salah satu anak buahnya berinisial tersandung kasus korupsi. Sang Gubernur pun melenggang pura-pura tak tahu dengan apa yang terjadi, tak pernah menyinggung kasus tersebut. Dan mulailah dengan cara mengalihkan perhatian orang-orang dengan prestasi yang entah apa dia benar-benar punya andil di sana.

Pasangan no.3, ada sedikit daya tarik untuk memilih pasangan ini. Dari gaya kampanye yang mengingatkan Gubernur Jokowi-Ahok yang fenomenal, baju kotak-kotak dan beberapa Program yang menurutku tidak mengawang-ngawang dari kedua calon diatas. Tapi rasa pesimis begitu melekat pada pasangan ini. Pesimis suaranya kalah, mungkin itu yang dirasakan orang-orang hingga survei pun menunjukkan hal yang sama. Dia menjadi bayang-bayang kedua calon diatas dan terlihat hanya sebagai kopian Jokowi-Ahok dari baju kotak-kotaknya.

Sejatinya, pemimpin adalah mereka yang dapat membawa rakyatnya ke arah keadilan dan kesejahteraan. Mungkin banyak lagi yang kita inginkan dari sebuah kepemimpinan. Anda bisa memasukkan soal moral atau apapun dimana anda bisa melihat kejayaan bangsa. Demokrasi yang terjadi memaksa kita untuk memilih sebuah pilihan yang sangat minimal. Seiring dengan ungkapan, setidaknya dia sukses dalam perekonomian (walaupun yang menguasai keluarganya saja) atau setidaknya dia membuat kota makin modern (dan menyingkirkan rakyat kecil dan simbol lain selain pembangunan fisik)

Kalaupun ada niat baik untuk membangun bangsa, para calon entah pengaruh darimana memilih cara-cara tidak etis berkampanye. Akhir-akhir ini SMS salah satu pasangan calon datang bertubi-tubi, isinya tentang hal-hal negatif lawan politiknya. Politik uang, atau iming-iming pada daerah tertentu juga masih menjadi cara ampuh yang mereka pilih. Hal yang membuatku meragukan demokrasi, sebab suara minoritas (atau yang tak memilih mereka) akan terabaikan. Konsentrasi tim sukses lebih mengarah pada segala cara menjatuhkan lawan tanpa peduli bahwa kampanye mereka adalah sebuah pembodohan.

Jika ada kebebasan untuk memilih mereka maka untuk kali ini, saya memilih abstain.

 

Telaga Safar, 5 Januari 2013

#Update: Pasangan No.2 sebagaimana ditetapkan KPU telah memenangkan Pilgub Sulsel, Hari ini (13 Januari 2013) pasangan No. 1 menggugat kemenangan pasangan No.2 Ke Mahkamah Konstitusi.

Damai

Seringkali dalam hidup, saya menginginkan kedamaian. Ketika saya kembali ke rumah, bertemu pacar, nongkrong bersama teman, menyapa orang tak kukenal atau menonton laku aktor di TV, saya ingin berdamai dengan mereka. Kami tak perlu berbeda apalagi untuk bertengkar. Ini mempengaruhi kondisi fisik diriku, mata berkunang-kunang, kepala pusing, badan menggigil dan dalam beberapa hal mengurangi rejeki. Konflik bisa menutup pintu-pintu rejeki sementara beberapa orang, termasuk saya. Kedamaian yang kuartikan saat itu adalah sebuah kompromi. Sebab mengalah bisa menyelesaikan masalah yang ada.

Namun diantara kompromi, kedamaian terasa sesuatu yang salah. Kedamaian yang dipaksakan terasa paradoks. Begitupula kebahagiaan (buah dari kedamaian?), dia kadang muncul seperti fatamorgana, tampak kelihatan namun sesungguhnya hanya sebuah ilusi. Kesabaran dan kepengecutan jadi tipis perbedaannya. Seseorang berkata “Sabarlah sebab nanti semua akan terlewati dan akan indah pada waktunya” ini sama saja dengan membuat diri ketakutan menghadapi masalah. Jika sebuah ayat mengatakan Setiap orang akan diuji berdasarkan kemampuannya maka perlu untuk melihat kembali sejauh mana masalah itu terjadi. Karena yang ada dalam pikiran adalah usaha lari dari kenyataan.

Apakah yang dipikirkan seorang pengecut, bukankah dia selalu berpikir untuk mengamankan dirinya. Apakah tidak mencoba menelisik apa yang terjadi? bukankah Tuhan memerintahkan untuk membaca? dalam badai akan lahir pelaut ulung, begitu kata orang bijak. Pelaut tak selamanya berlayar di lautan tenang, kadang dia terjebak dalam ombak tinggi. Saya lupa-lupa ingat dengan sebuah film tentang sekelompok nelayan yang mencari ikan justru di lautan yang bergejolak. Katanya ikan-ikan besar sangat mudah di dapatkan disana, namun teramat berisiko. Mungkin pelaut mengenal dengan baik lautnya, seperti saya mengenal keluarga, kekasih, teman dan pejabat di sekitarku. Tapi pelaut ulung juga mengenal badai lautnya, dia mengenal baik kapal dan orang-orang bersamanya. Tak seperti diri yang terasing dari sekelilingnya. Di film itu, memang berakhir tragis, mereka mati di lautan bergejolak.

Munginkah saya takut dengan ending tragis seperti itu. Pelaut Ulung, mati tidak dalam ketidaksia-siaan, pelaut melalui proses panjang untuk mengenal badai dan kapalnya. Entah apa agamanya, tapi dia membaca, sesuatu yang diperintahkan Tuhan yang kupercaya. Kalau begitu seperti tak ada kedamaian jika proses membaca dilakukan. Mungkin, kepala benar-benar sakit, badan meriang dsb dan pada akhirnya berakhir pada kematian. he, Mungkin sekali lagi ini mungkin, kedamaian hanya ada dalam kematian.

Perjalanan ke Timur

Pernah sekali waktu, saya menggantungkan nasib pada kapal yang berlayar ke Timur Indonesia. Menuju pulau pembuangan orang-orang tertentu di masa Orde Baru, tepatnya di Pulau Buru. Sempat terlintas jika pulau ini memang milik orang-orang terbuang, termasuk saya :(.

Tampak dari samudera Pulau Buru adalah pegunungan yang tandus, sedikit berbeda dengan pulau lainnya yang terlihat hijau atau Ambon yang makmur dengan cahaya lampu di malam hari. Pulau Buru seperti sebuah tempat misterius, buatku sangat asing dan …

Ketika memasukinya… saya ikut bersama rombongan penambang emas dari Sulawesi. Ya sudah beberapa bulan ini Pulau Buru diserbu oleh penambang. Kandungan emas yang cukup tinggi dan proses pengambilan yang mudah, menggoda orang-orang di kampung saya tuk berburu ke Pulau Buru. Bukan hanya dari Sulawesi, mereka datang dari berbagai penjuru, Maluku, Papua, Kalimantan, Tasikmalaya, Manado, Sangir dan sebagainya. Jadinya Pulau Buru sebagai pulau harapan yang tiba-tiba menggeliat mencari bentuk. Bentuk yang kelak mempertemukan mereka dengan sesuatu yang baru dan keramaian yang seketika.

Dari Nene (Orang Jawa transmigran yang rumahnya kami sewa) saya dapat gambaran jika masyarakat Buru hanya mengandalkan pertanian dan perikanan, interaksi penduduk asli (Orang Buru) dengan transmigran yang berjalan lambat. Ketika menyaksikan kehidupan di salah satu kampung, saya membayangkan kampung kami 20 tahun lalu. Akses sarana dan prasana yang masih terbatas. Asyik masyuk dengan kehidupannya sendiri, jauh dari hiruk pikuk kota apalagi pusat negara.

Begitu banyak yang terlibat di pulau ini. Orang Buru sendiri masih memilih dengan identitas mereka yang tetap waspada dengan pendatang. Tak heran di keseharian, mereka tak lepas dari tombak dan parang. Jauh di masa lalu dan negeri yang juga sangat jauh, saat Emas baru ditemukan, kekerasan tak bisa dihindari. Mungkin, karena persediaan yang terbatas dan terlalu banyak yang menginginkannya, Emas selalu identik dengan darah. Dan mungkin masih banyak alasan lainnya…

Pulau Buru

The Rain

Sudah lama hujan tidak turun di kota ini. Sepertinya musim kemarau segera tiba, di sudut-sudut jalan rumput liar mulai menguning. Rerumputan selalu berubah warna saat tak ada lagi air pemasok kehidupan, walaupun ada diantaranya yang dapat bertahan dengan berbagai cara. Berpura-pura me-layu atau menyimpan generasi mereka di dalam tanah.

Aku sendiri takut hujan, namun tetap menyukainya. Bukan soal dingin yang dibawanya atau sebuah penjara tercipta dari tetesan panjangnya. Namun hujan telah mengasingkan diriku dari kehidupan, dari seseorang yang disebut kekasih.

Hujan di awal Januari 2010

Awal Januari 2010, saat datang pesan darinya. Saat itu pula hujan turun deras, menciptakan kerangkeng besar untukku. Apa yang kan kulakukan dengan sebuah pesan perpisahan dari sang kekasih. Hujan mungkin ingin menghiburku, ku dengar hujan berkata “dengarlah musik melantun dari atap-atap rumah yang kudatangi, aku tak tahu dengan orang-orang yang menghindariku, tapi aku akan menyanyikan lagu yang sama”

Nyanyian hujan ketika berhenti meninggalkan sebuah pesan perpisahan. Apa yang kau rasakan ketika hujan reda, kosong… dan kau berharap dia datang lagi. Inilah ingatan tentang hujan bagiku.

Rapalan of the day

hehe…

kukirimkan sebuah rapalan yang kudapatkan dalam belantara maya

Kebahagian yang didapatkan oleh orang yang menghindari kekecewaan adalah kebahagian yang semu, dia bukan bahagia tetapi hanya tidak kecewa saja

Baraniko… pea!!!

Roda Pedati Masih Berputar

Siapa yang kan mengira di mana pada akhirnya kita berlabuh, sementara nasib diserahkan pada berjalannya waktu. Hari ini aku sudah merencanakan tuk berpindah tempat lagi. Seperti kawanku yang lebih dulu pergi, mungkin aku akan merindukan tempat ini, diam-diam menanyakan kabarnya dari kejauhan.

Terus terang aku sempat kerasan di tempat ini. Aku belajar, aku mengarang, aku menyimpan setiap memori yang kudapatkan di hari saat bekerja. Namun, ada saja yang tak cukup. Seorang kawan mengatakan padaku, hari pertama bekerja engkau akan menuruti segala perintah atasan namun di hari selanjutnya engkau akan melawannya. Tadinya aku tak setuju dengan pendapatnya, harusnya melihat konteks dulu mengapa seseorang harus melawan majikan.

Pada akhirnya Ketakadilan itu mulai kurasakan ketika tak ada kontrak yang jelas dalam bekerja. Waktu dan jam kerja mulai tak dibatasi. Pernah antara aku dan majikan membicarakan tentang kelanjutan “karir” ku, saya akan dikontrak. Tugasnya merangkap segalanya, apa saja yang akan dibutuhkan kantor. Gajinya? kata majikan Liatlah bagaimana kondisi keuangan kita! harga di Setengah UMR itu sudah cukuplah untukmu!

Roda pedati mungkin berjalan lambat, tapi kuyakinkan diriku bahwa Roda akan terus bergerak. Setelah lebaran ini aku sudah memutuskan untuk meninggalkan tempatku bekerja. Mencari kehidupan diluar sana, entah buruk atau lebih baik. Yang pasti tempat ini tidak memberikanku hal yang lebih baik.

Mari Berlapar-lapar, Menahan-nahan dan Menimbang-nimbang Arti Lapar

Untuk mengajak aku makan engkau sampai mengeluarkan dalil, katamu jangan sampai membuat diri menderita karena itu perbuatan haram. Sejauh manakah penderitaanku, saya sendiri tidak bisa menyelami dalamnya sebuah derita tidak pula engkau. Liatlah badanku makin tambun, apakah aku menderita?!

Bisa saja ini sebuah derita yang sebenar-benarnya kala segalanya bisa di dapatkan dengan mudah. Jikalau begitu berarti derita itu ada dua, satu karena tak dapat menahan diri, memamahbiak segalanya lalu mati seperti ayam tewas di lumbung padi. Kedua, penderitaan karena konsekuensi tak mau lagi menikmati segalanya atau memang tak ada lagi yang bisa dinikmati. Seperti kali ini ketika kau mengajakku makan dan aku menunggu hingga otakku bilang perutku sudah lapar.

Malam Ini Gerhana Bulan

Kamis Subuh, dimana gerhana bulan terlama diprediksikan akan berlangsung dan dapat dinikmati di hampir seluruh wilayah Indonesia. Gerhana bulan yang mengakibatkan air pasang naik lebih tinggi dari biasanya. Rinduku pada bulan, cahayanya remang menyejukkan. Ada yang bilang, rembulan adalah media kerinduan kepada baginda Rasul sebab kekuatannya pernah membelah bulan. Tataplah bulan saat bersinar di ufuk, rasakan kehadirannya.

Malam ini gerhana bulan, terang dan gelap hanya sesaat setelah itu cahayanya menyelimuti malam mengajak tuk merenungi kehidupan.