Recantation of Hendra Setiawan

Sudah lama bahkan bertahun-tahun aku menyimpan hati yang beku, sejak Marlin memutuskan hubungan kami. Segenap raga seolah bersiap dengan kekosongan, otak memikirkan bagaimana hal itu bisa terjadi. Aku menyusuri setiap memori, apa yang salah di sana? Sebagaimana pasangan yang sedang memadu kasih, aku bersemangat di hari awal kami berpacaran. Cinta tumbuh dari hari ke hari. Kami berjanji untuk saling menjaga cinta agar tetap ada pada diri kami hingga selamanya. Namun, waktu jugalah yang mempertemukan kami pada kebosanan, apa yang menarik tiba-tiba saja menjadi hampa.  Marlin mulai jatuh cinta pada pria lain, apa yang tak ditemui pada diriku mulai diungkapnya satu per satu. Pertengkaran terjadi, dan amarah mendapatkan tempat terbaik diantara kebuntuan. Dan hari itu, disaat aku memandang wajah tercantik Marlin, dia memutuskan hubungan kami. Aku membutuhkan waktu untuk menerima apa yang terjadi, tentu dengan wajah yang lusuh.

Cinta tiba-tiba saja menjadi soal yang paling rumit kutemukan dalam hidup. Entah ada kemajuan ataukah tidak, aku semakin terbenam dalam ketakutan akut. Ada yang menyebutnya trauma, ya mungkin saja ini semacam trauma di mana kamu tidak bisa jatuh cinta lagi. Ada yang mencoba menggantikan posisi Marlin, tapi perlahan mundur bahkan kadang aku menghadapinya lebih agresif menolak. Ada kisah di tempat kami, ketika seseorang terlalu banyak menolak cinta maka cinta akan menjauhinya. Mungkin inilah yang terjadi, kejahatan menolak cinta membuat hati tertutup, beku dan sedikit kejam…. kejam. Hasilnya adalah engkau menjomblo dari hari ke tahun.

Dan sebuah ketidakpahaman akan menjadi kelindan tak berujung. Dan saat itu pula sebuah nasehat akan sangat berguna bagi dirimu. Begitu banyak orang yang memuja cinta, mereka terlahir menjadi pujangga, filosof dan bahkan kiyai. Dan ada pula tak perlu menyandang nama besar, seperti sahabatku Lim, dia selalu jatuh cinta, pacarnya banyak. Apa ini sebuah hipnosis? Pernah aku menontonnya di televisi, seseorang bisa lama tertidur jika tak dibangunkan. Seringkali aku melihat Marlin melambaikan tangan memintaku kembali. Kumasuki ruang-ruang mimpi di mana hidup menjadi lebih indah bersamanya. Marlin adalah zahirku. Marlin menghipnotisku.

Mimpi tak selalu beriringan dengan kenyataan. Dosenku pernah bilang masalah terjadi bila keinginan tak sesuai dengan realita. Hipotesa yang sederhana dan mengikat hampir setiap sendi kehidupan. Begitulah yang terjadi antara aku dan Marlin, aku menciptakan Limbo untuknya, sebuah tempat di mana aku bisa bersama dia selamanya.  Aku melangkah ke puncak tertinggi mimpi dan tak ada yang bisa membangunkanku untuk bertahun-tahun lamanya. Sementara kehidupan berjalan dengan kesunyian yang mencekam.

Bukankah pertanyaan kapan nikah? Itu adalah sebuah ironi, untuk pria berumur ini menjadi sebuah lelucon di negeri kami, Indonesia. Eh, ini bukan dalam rangka membasmi lajang tua di bumi nusantara, ini sebuah cerita tentang pria yang bisa tersadar dan merasakan cinta. Setelah lama ‘mati’ kehidupan menjadi sesuatu yang sangat berharga. Apa yang hilang dalam diri, perlahan menumbuhkannya kembali. Aku berusaha tuk jatuh cinta, sebab tak ada obat mujarab untuk menikmati angin yang berhembus, air dingin di pegunungan, macet di kota, menulis dan hal lainnya yang bisa kutemukan dalam hidup. Seseorang harus menajamkan setiap inderanya, meresapi setiap tarikan nafas. Dan saat bersamaan Cinta tumbuh dan menjaga seseorang lebih berada dalam dunia.

Sekali lagi, lihatlah para pecinta, Shakespeare, Kahlil Gibran, Rumi, Imam khomeini, dan juga Lim. Mereka punya cinta, terlepas bagaimana mereka memahaminya. Dan hari ini, di awal musim kemarau, aku … Hendra Setiawan mengakui kesalahan masa lalu dan menyatakan siap jatuh cinta lagi.

 

 

Bone-Bone, 27 Agustus 2014

(maybe this a positivist view about love) :p

Advertisements