KM Gunung Dempo

by tajamati

Ketika KM Gunung Dempo berlayar, aku tahu ada banyak hal yang kan tertinggal, tak ubahnya aku dengan mereka yang menyingkir dari hiruk pikuk kota. Entah ini sebuah pilihan atau bukan, tak kan akrab lagi dengan social media. Catatan harian kembali kepada bentuknya yang klasik.

Tapi dunia melaju tak dapat kuhindarkan, mungkin saat kembali. Aku akan berteman akrab lagi dengan teknologi informasi. Saat itu mungkin akan jauh lebih rumit, perkembangan yang tak tertahankan. Jika pun aku telah terjebak, hilang di belantara komunikasi, aku ingin rehat sejenak.
Sekali lagi entah ini pilihan atau tidak. Atau apakah ini sebuah langkah mundur? hidup tak ter-up date lagi.

Tapi dunia ini terlalu rumit. Ini dunia yang seharusnya membuat seseorang lebih hebat. ya, betapa kota akan menyeleksi orang-orang. Yang terhebatlah yang kan muncul.

Ketika KM Gunung Dempo berlayar. Semuanya kembali menjadi teka-teki. Bukankah seseorang selalu menantikan jawaban sebuah teka-teki. Kehidupan sehari-hari di kota yang kujalani, yang sebentar lagi kutinggalkan, bagaikan sebuah teka-teki yang jawabnya akan kutelusuri saat pulang. Dan ini pilihan atau tidak, aku yang menjauh tak sepenuhnya bisa terlepas.

kapal ke empat, semoga aku bisa berangkat, dan kuharap kapal ini mengantarkan ku pada Mbah Bani dan Bidin di Pulau Buru. Ini hanya omongan pada diri sendiri agar bisa menyiapkan diri dengan baik. Beberapa perjalanan tertunda karena hati yang masih berat meninggalkan kenyamanan.

Advertisements