Bidin

by tajamati

Mata lelaki itu masih melekat, memperhatikan apakah ada yang salah dengan anyamannya. Sedari pagi, bambu-bambu dipotong dan dihaluskan, dipisahkan dalam dua bagian, satu panjang dan satunya lagi agak panjang. Kesalahan awal menyusun bisa berakibat fatal pada anyaman. Saya sudah mencoba mengikutinya, hasilnya 5 kali percobaan, bongkar ulang untuk sebuah anyaman yang kelak jadi baki. Tampak sederhana dan ternyata prakteknya sulit.

Mbah Bani, kami berkenalan saat saya dan rombongan pekerja tambang memilih ngontrak di rumahnya. Usianya tercermin dengan panggilan Mbah yang setahu saya adalah panggilan dalam budaya Jawa untuk kakek atau nenek. Mbah Bani tidak sendiri tinggal di rumah ini, ada seorang anak kecil usianya sekitar 11 tahun, namanya Bidin. Bidin adalah cucu Mbah dari anak lelaki nomor dua, Ibu Bidin meninggal saat Bidin berusia setahun. Ayah Bidin menikah lagi, dan dari cerita Mbah, Istri anaknya tak begitu menyukai Bidin. Suami istri itu atas desakan istrinya lebih memilih kembali ke Jawa. Jadinya Mbah Bani menjadi Ayah, Ibu, Kakek, sekaligus teman bermain Bidin. Anak Mbah yang lain, ada 4 orang, sudah punya rumah dan keluarga sendiri. Kadang mereka berkunjung sekali-kali.

Mbah Bani kadangkala membantu pekerjaan kami, dia begitu bersemangat dan saking bersemangatnya, hutan dipinggiran desa yang jaraknya hampir dua kilo di tunjuknya seperti menunjuk warung kopi sejarak tiga rumahan. Namun, kadangkala dia begitu muram, interaksi dua budaya yang berbeda seringkali menimbulkan konflik, itu terjadi di antara kami dengan Mbah Bani. Mbah Bani dengan kelembutan Jawa dan kami yang ramai, bersuara keras, seringkali bercanda fisik yang berlebihan bisa miskomunikasi kapan saja. Tapi untuk urusan ini, Mbah melakukannya dengan bijak. Ketika salah seorang diantara kami berbuat kesalahan, mengajak selingkuhannya menginap di rumah, Mbah Bani tidak langsung melaporkannya ke RT setempat. Mbah memilih menghubungi teman kami yang lebih tua dan mulai membicarakan penyelesaiannya.

Sebuah pemahaman bisa saja termakan waktu, kami dan Mbah Bani perlahan mulai melebur. Kami mulai tak asing dengan karakter dan suasana di rumah Mbah. Namun, begitulah ada yang selalu sulit di lakukan dengan pemahaman. Untuk kami, hal itu adalah Bidin.

Bidin tak seperti anak lainnya, dia mengalami gangguan berbicara dan pikiran yang lambat. Untuk anak seusianya, Bidin aktif bermain. Namun, dari pandangan kami yang katanya  masih normal, permainan Bidin sungguh aneh. Bangun tidur, Bidin menghampiri gelas-gelas kami dan mencoba meminum kopi panas kami, jika berhasil mendapatkan gelas, isinya langsung amblas dalam sekali teguk. Sudah itu Bidin keluar rumah dan mulai menangkapi anak ayam dan anak itik milik kakeknya. Bidin melakukannya dengan penuh suka cita. Kami dan Mbah yang merasa dikerjai Bidin mulai kehilangan kesabaran.

Sulit berbicara dengan Bidin, bahasa Bidin cenderung bahasa tubuh. Jikalau pun ada bahasa lisan itu diciptakannya sendiri. Bahasa pengajaran (lebih pada hukuman atas perbuatan Bidin) akhirnya berujung pada kekerasan fisik pada Bidin. Ketua rombongan penambang pernah memperingati seorang teman karena terlalu memanjakan Bidin. Kekhawatiran itu muncul untuk melindungi orang-orang dari keusilan Bidin. Pikirnya Bidin akan semakin berbuat sesuka hatinya dan akan menyusahkan, mengganggu ketentraman kami. Mbah Bani juga pernah berbicara langsung dengan teman yang lembut itu, jika dalam situasi tertentu untuk tak segan-segan memukul Bidin. Yang berarti kekerasan diperbolehkan untuk Bidin.

Entah mungkin suatu bentuk perlawanan, atau memang keasyikan dunia Bidin, pernah dia hampir membuat rumah terbakar habis. Penyebabnya korek api yang lepas dari pengamatan orang-orang, diambil Bidin dan mulai membakar terpal di kamar Mbah Bani. Untunglah salah seorang penambang melihat dan segera menghentikan aksi Bidin.

Rumah bukan hanya pertentangan Bidin, Mbah Bani dan para penambang. Hari-hari di rumah juga diselingi canda tawa, Bidin pelakunya. Dia pandai sekali mengikuti gerakan Kuda Lumping, ini menjadi hiburan di rumah yang 90% adalah laki-laki. Seperti pula, saat kami, yang lebih muda belajar anyaman. Sedikit-sedikit belajar bahasa Jawa dari Mbah dan juga berbagi teknik membangun rumah kayu. Mbah mempersilahkan kami menikmati jeruk dan sayur pare manis di belakang rumah. Urusan masak sepenuhnya dilakukan penambang. Mbah sangat menyukai santan, Penambang menyukai tumisan pedas, dan Bidin menyukai semuanya. Dapur memang kekuasaan penambang, tapi bukan berarti sayur santan tak pernah tersaji.

Keramaian di rumah Mbah seperti tiba-tiba saja terjadi. Mbah bercerita soal lambatnya perekonomian Pulau Buru. Ayah Bidin yang sepertinya mewarisi rumah, meninggalkan kampung karena sulitnya mendapat pekerjaan. Sawah-sawah lebih banyak menganggur jika pun ada hanya milik mereka yang punya modal cukup. Untuk menjadi buruh, Ayah Bidin tak sanggup, apalagi untuk memenuhi kebutuhan istri Ayah Bidin yang katanya berasal dari kota.

Keramaian itu tidak terjadi di rumah Mbah saja. Di unit lainnya, rumah-rumah yang sepi, rumah kosong, atau pun halaman disulap menjadi kontrakan untuk penambang yang saban hari makin bertambah saja. Pulau Buru memang berubah ramai sejak tambang emas dibuka awal tahun 2012 lalu.

 

*Upt kkn, saat berlangsung pertandingan Real Madrid vs MU (Kamis,14/02/2013)

 

Advertisements