Abstain

by tajamati

Dulu, saat SD, saya membayangkan sebuah bangsa yang damai, aman dan makmur dimana saya hidup didalamnya. Buku pelajaran dan guru menceritakan pengetahuan itu dan kurekam dengan baik-baik. Namun kadangkala ingatan itu hilang bersama berlalunya waktu. saya yang kecil dulu belum bisa berpartisipasi, sekarang dengan usia yang cukup, diikutkan menentukan suara. Suara yang penting untuk bangsa, setidaknya itu ajakan beberapa gambar, baliho dan iklan di sekitarku.

Ketika hari ini datang sebuah undangan untuk pemilihan gubernur Sulsel. Ingatan itu muncul lagi. Saya selalu takut jika diperhadapkan pada sebuah pilihan. Ya bisa dikatakan takut salah pilih atau malah takut tak dapat mengikuti pemimpin yang saya pilih itu ke depannya. Sebab, jika menafsirkan bahasa tentang pemimpin, yang ada adalah sosok yang memiliki sikap dan tentu tingkah laku, yang tercermin dari pemahaman akan kebenaran dan keadilan. Kadang pemimpin ini mengklaim telah mewujudkan bangsa impian saya itu, namun realitasnya masih jauh. Mungkin kita merasa aman damai dan makmur namun jauh dari kebenaran dan keadilan, malah terjadi pembodohan besar-besaran. Dan mana mungkin menuntut kebenaran dan keadilan dalam keadaan bodoh.

Memasuki bilik suara dan mencoblos gambar calon pemimpin itu, memang gampang (kan!). Tapi ingatan tentang perwujudan bangsa yang makmur, aman, damai dan sejahtera butuh pertimbangan (bertapa juga boleh!). Setidaknya, saya harus mengetahui siapa-siapa mereka yang berani mengajukan diri. Ada tiga (3) pasangan saat ini. No.1 IA, no.2 Sayang dan No.3 GarudaNA (saya tak menyebutkan nama aslinya karena mereka lebih sering dan senang menyebut dirinya dengan inisial). No.1 adalah pasangan walikota dan tokoh agama, dalam kampanye mereka mengusung semangat baru, entah semangat dari mana sehingga dinamakan semangat baru. Mungkin saat ini jaman Baterei jadi perlu cazz (charge) jika terjadi lowbatt  mereka inilah energi barunya. Pertanyaannya kemudian adalah darimana kita mengetahui bahwa mereka benar-benar baru. Sang walikota masih memimpin kota Makassar dengan segala keruwetan transportasi yang mulai muncul. Dan tata kota yang dipenuhi ruko. Menyulap ruang-ruang publik beraroma bisnis.

Selanjutnya No.2, dia masih jadi Gubernur dan menginginkannya lagi. Masa baktinya digunakan dengan sebaik-baiknya untuk membangun jaringan keluarga. Klaimnya dalam kampanye kemarin, tak ada kasus korupsi yang pernah terjadi dengan dan bawahannya. Padahal baru saja salah satu anak buahnya berinisial tersandung kasus korupsi. Sang Gubernur pun melenggang pura-pura tak tahu dengan apa yang terjadi, tak pernah menyinggung kasus tersebut. Dan mulailah dengan cara mengalihkan perhatian orang-orang dengan prestasi yang entah apa dia benar-benar punya andil di sana.

Pasangan no.3, ada sedikit daya tarik untuk memilih pasangan ini. Dari gaya kampanye yang mengingatkan Gubernur Jokowi-Ahok yang fenomenal, baju kotak-kotak dan beberapa Program yang menurutku tidak mengawang-ngawang dari kedua calon diatas. Tapi rasa pesimis begitu melekat pada pasangan ini. Pesimis suaranya kalah, mungkin itu yang dirasakan orang-orang hingga survei pun menunjukkan hal yang sama. Dia menjadi bayang-bayang kedua calon diatas dan terlihat hanya sebagai kopian Jokowi-Ahok dari baju kotak-kotaknya.

Sejatinya, pemimpin adalah mereka yang dapat membawa rakyatnya ke arah keadilan dan kesejahteraan. Mungkin banyak lagi yang kita inginkan dari sebuah kepemimpinan. Anda bisa memasukkan soal moral atau apapun dimana anda bisa melihat kejayaan bangsa. Demokrasi yang terjadi memaksa kita untuk memilih sebuah pilihan yang sangat minimal. Seiring dengan ungkapan, setidaknya dia sukses dalam perekonomian (walaupun yang menguasai keluarganya saja) atau setidaknya dia membuat kota makin modern (dan menyingkirkan rakyat kecil dan simbol lain selain pembangunan fisik)

Kalaupun ada niat baik untuk membangun bangsa, para calon entah pengaruh darimana memilih cara-cara tidak etis berkampanye. Akhir-akhir ini SMS salah satu pasangan calon datang bertubi-tubi, isinya tentang hal-hal negatif lawan politiknya. Politik uang, atau iming-iming pada daerah tertentu juga masih menjadi cara ampuh yang mereka pilih. Hal yang membuatku meragukan demokrasi, sebab suara minoritas (atau yang tak memilih mereka) akan terabaikan. Konsentrasi tim sukses lebih mengarah pada segala cara menjatuhkan lawan tanpa peduli bahwa kampanye mereka adalah sebuah pembodohan.

Jika ada kebebasan untuk memilih mereka maka untuk kali ini, saya memilih abstain.

 

Telaga Safar, 5 Januari 2013

#Update: Pasangan No.2 sebagaimana ditetapkan KPU telah memenangkan Pilgub Sulsel, Hari ini (13 Januari 2013) pasangan No. 1 menggugat kemenangan pasangan No.2 Ke Mahkamah Konstitusi.

Advertisements