Damai

by tajamati

Seringkali dalam hidup, saya menginginkan kedamaian. Ketika saya kembali ke rumah, bertemu pacar, nongkrong bersama teman, menyapa orang tak kukenal atau menonton laku aktor di TV, saya ingin berdamai dengan mereka. Kami tak perlu berbeda apalagi untuk bertengkar. Ini mempengaruhi kondisi fisik diriku, mata berkunang-kunang, kepala pusing, badan menggigil dan dalam beberapa hal mengurangi rejeki. Konflik bisa menutup pintu-pintu rejeki sementara beberapa orang, termasuk saya. Kedamaian yang kuartikan saat itu adalah sebuah kompromi. Sebab mengalah bisa menyelesaikan masalah yang ada.

Namun diantara kompromi, kedamaian terasa sesuatu yang salah. Kedamaian yang dipaksakan terasa paradoks. Begitupula kebahagiaan (buah dari kedamaian?), dia kadang muncul seperti fatamorgana, tampak kelihatan namun sesungguhnya hanya sebuah ilusi. Kesabaran dan kepengecutan jadi tipis perbedaannya. Seseorang berkata “Sabarlah sebab nanti semua akan terlewati dan akan indah pada waktunya” ini sama saja dengan membuat diri ketakutan menghadapi masalah. Jika sebuah ayat mengatakan Setiap orang akan diuji berdasarkan kemampuannya maka perlu untuk melihat kembali sejauh mana masalah itu terjadi. Karena yang ada dalam pikiran adalah usaha lari dari kenyataan.

Apakah yang dipikirkan seorang pengecut, bukankah dia selalu berpikir untuk mengamankan dirinya. Apakah tidak mencoba menelisik apa yang terjadi? bukankah Tuhan memerintahkan untuk membaca? dalam badai akan lahir pelaut ulung, begitu kata orang bijak. Pelaut tak selamanya berlayar di lautan tenang, kadang dia terjebak dalam ombak tinggi. Saya lupa-lupa ingat dengan sebuah film tentang sekelompok nelayan yang mencari ikan justru di lautan yang bergejolak. Katanya ikan-ikan besar sangat mudah di dapatkan disana, namun teramat berisiko. Mungkin pelaut mengenal dengan baik lautnya, seperti saya mengenal keluarga, kekasih, teman dan pejabat di sekitarku. Tapi pelaut ulung juga mengenal badai lautnya, dia mengenal baik kapal dan orang-orang bersamanya. Tak seperti diri yang terasing dari sekelilingnya. Di film itu, memang berakhir tragis, mereka mati di lautan bergejolak.

Munginkah saya takut dengan ending tragis seperti itu. Pelaut Ulung, mati tidak dalam ketidaksia-siaan, pelaut melalui proses panjang untuk mengenal badai dan kapalnya. Entah apa agamanya, tapi dia membaca, sesuatu yang diperintahkan Tuhan yang kupercaya. Kalau begitu seperti tak ada kedamaian jika proses membaca dilakukan. Mungkin, kepala benar-benar sakit, badan meriang dsb dan pada akhirnya berakhir pada kematian. he, Mungkin sekali lagi ini mungkin, kedamaian hanya ada dalam kematian.

Advertisements