tajamati

A topnotch WordPress.com site

Month: February, 2013

KM Gunung Dempo

Ketika KM Gunung Dempo berlayar, aku tahu ada banyak hal yang kan tertinggal, tak ubahnya aku dengan mereka yang menyingkir dari hiruk pikuk kota. Entah ini sebuah pilihan atau bukan, tak kan akrab lagi dengan social media. Catatan harian kembali kepada bentuknya yang klasik.

Tapi dunia melaju tak dapat kuhindarkan, mungkin saat kembali. Aku akan berteman akrab lagi dengan teknologi informasi. Saat itu mungkin akan jauh lebih rumit, perkembangan yang tak tertahankan. Jika pun aku telah terjebak, hilang di belantara komunikasi, aku ingin rehat sejenak.
Sekali lagi entah ini pilihan atau tidak. Atau apakah ini sebuah langkah mundur? hidup tak ter-up date lagi.

Tapi dunia ini terlalu rumit. Ini dunia yang seharusnya membuat seseorang lebih hebat. ya, betapa kota akan menyeleksi orang-orang. Yang terhebatlah yang kan muncul.

Ketika KM Gunung Dempo berlayar. Semuanya kembali menjadi teka-teki. Bukankah seseorang selalu menantikan jawaban sebuah teka-teki. Kehidupan sehari-hari di kota yang kujalani, yang sebentar lagi kutinggalkan, bagaikan sebuah teka-teki yang jawabnya akan kutelusuri saat pulang. Dan ini pilihan atau tidak, aku yang menjauh tak sepenuhnya bisa terlepas.

kapal ke empat, semoga aku bisa berangkat, dan kuharap kapal ini mengantarkan ku pada Mbah Bani dan Bidin di Pulau Buru. Ini hanya omongan pada diri sendiri agar bisa menyiapkan diri dengan baik. Beberapa perjalanan tertunda karena hati yang masih berat meninggalkan kenyamanan.

Advertisements

Bidin

Mata lelaki itu masih melekat, memperhatikan apakah ada yang salah dengan anyamannya. Sedari pagi, bambu-bambu dipotong dan dihaluskan, dipisahkan dalam dua bagian, satu panjang dan satunya lagi agak panjang. Kesalahan awal menyusun bisa berakibat fatal pada anyaman. Saya sudah mencoba mengikutinya, hasilnya 5 kali percobaan, bongkar ulang untuk sebuah anyaman yang kelak jadi baki. Tampak sederhana dan ternyata prakteknya sulit.

Mbah Bani, kami berkenalan saat saya dan rombongan pekerja tambang memilih ngontrak di rumahnya. Usianya tercermin dengan panggilan Mbah yang setahu saya adalah panggilan dalam budaya Jawa untuk kakek atau nenek. Mbah Bani tidak sendiri tinggal di rumah ini, ada seorang anak kecil usianya sekitar 11 tahun, namanya Bidin. Bidin adalah cucu Mbah dari anak lelaki nomor dua, Ibu Bidin meninggal saat Bidin berusia setahun. Ayah Bidin menikah lagi, dan dari cerita Mbah, Istri anaknya tak begitu menyukai Bidin. Suami istri itu atas desakan istrinya lebih memilih kembali ke Jawa. Jadinya Mbah Bani menjadi Ayah, Ibu, Kakek, sekaligus teman bermain Bidin. Anak Mbah yang lain, ada 4 orang, sudah punya rumah dan keluarga sendiri. Kadang mereka berkunjung sekali-kali.

Mbah Bani kadangkala membantu pekerjaan kami, dia begitu bersemangat dan saking bersemangatnya, hutan dipinggiran desa yang jaraknya hampir dua kilo di tunjuknya seperti menunjuk warung kopi sejarak tiga rumahan. Namun, kadangkala dia begitu muram, interaksi dua budaya yang berbeda seringkali menimbulkan konflik, itu terjadi di antara kami dengan Mbah Bani. Mbah Bani dengan kelembutan Jawa dan kami yang ramai, bersuara keras, seringkali bercanda fisik yang berlebihan bisa miskomunikasi kapan saja. Tapi untuk urusan ini, Mbah melakukannya dengan bijak. Ketika salah seorang diantara kami berbuat kesalahan, mengajak selingkuhannya menginap di rumah, Mbah Bani tidak langsung melaporkannya ke RT setempat. Mbah memilih menghubungi teman kami yang lebih tua dan mulai membicarakan penyelesaiannya.

Sebuah pemahaman bisa saja termakan waktu, kami dan Mbah Bani perlahan mulai melebur. Kami mulai tak asing dengan karakter dan suasana di rumah Mbah. Namun, begitulah ada yang selalu sulit di lakukan dengan pemahaman. Untuk kami, hal itu adalah Bidin.

Bidin tak seperti anak lainnya, dia mengalami gangguan berbicara dan pikiran yang lambat. Untuk anak seusianya, Bidin aktif bermain. Namun, dari pandangan kami yang katanya  masih normal, permainan Bidin sungguh aneh. Bangun tidur, Bidin menghampiri gelas-gelas kami dan mencoba meminum kopi panas kami, jika berhasil mendapatkan gelas, isinya langsung amblas dalam sekali teguk. Sudah itu Bidin keluar rumah dan mulai menangkapi anak ayam dan anak itik milik kakeknya. Bidin melakukannya dengan penuh suka cita. Kami dan Mbah yang merasa dikerjai Bidin mulai kehilangan kesabaran.

Sulit berbicara dengan Bidin, bahasa Bidin cenderung bahasa tubuh. Jikalau pun ada bahasa lisan itu diciptakannya sendiri. Bahasa pengajaran (lebih pada hukuman atas perbuatan Bidin) akhirnya berujung pada kekerasan fisik pada Bidin. Ketua rombongan penambang pernah memperingati seorang teman karena terlalu memanjakan Bidin. Kekhawatiran itu muncul untuk melindungi orang-orang dari keusilan Bidin. Pikirnya Bidin akan semakin berbuat sesuka hatinya dan akan menyusahkan, mengganggu ketentraman kami. Mbah Bani juga pernah berbicara langsung dengan teman yang lembut itu, jika dalam situasi tertentu untuk tak segan-segan memukul Bidin. Yang berarti kekerasan diperbolehkan untuk Bidin.

Entah mungkin suatu bentuk perlawanan, atau memang keasyikan dunia Bidin, pernah dia hampir membuat rumah terbakar habis. Penyebabnya korek api yang lepas dari pengamatan orang-orang, diambil Bidin dan mulai membakar terpal di kamar Mbah Bani. Untunglah salah seorang penambang melihat dan segera menghentikan aksi Bidin.

Rumah bukan hanya pertentangan Bidin, Mbah Bani dan para penambang. Hari-hari di rumah juga diselingi canda tawa, Bidin pelakunya. Dia pandai sekali mengikuti gerakan Kuda Lumping, ini menjadi hiburan di rumah yang 90% adalah laki-laki. Seperti pula, saat kami, yang lebih muda belajar anyaman. Sedikit-sedikit belajar bahasa Jawa dari Mbah dan juga berbagi teknik membangun rumah kayu. Mbah mempersilahkan kami menikmati jeruk dan sayur pare manis di belakang rumah. Urusan masak sepenuhnya dilakukan penambang. Mbah sangat menyukai santan, Penambang menyukai tumisan pedas, dan Bidin menyukai semuanya. Dapur memang kekuasaan penambang, tapi bukan berarti sayur santan tak pernah tersaji.

Keramaian di rumah Mbah seperti tiba-tiba saja terjadi. Mbah bercerita soal lambatnya perekonomian Pulau Buru. Ayah Bidin yang sepertinya mewarisi rumah, meninggalkan kampung karena sulitnya mendapat pekerjaan. Sawah-sawah lebih banyak menganggur jika pun ada hanya milik mereka yang punya modal cukup. Untuk menjadi buruh, Ayah Bidin tak sanggup, apalagi untuk memenuhi kebutuhan istri Ayah Bidin yang katanya berasal dari kota.

Keramaian itu tidak terjadi di rumah Mbah saja. Di unit lainnya, rumah-rumah yang sepi, rumah kosong, atau pun halaman disulap menjadi kontrakan untuk penambang yang saban hari makin bertambah saja. Pulau Buru memang berubah ramai sejak tambang emas dibuka awal tahun 2012 lalu.

 

*Upt kkn, saat berlangsung pertandingan Real Madrid vs MU (Kamis,14/02/2013)

 

🙂 … Kabar baik! dan betapa menyenangkan membacanya…

Biblioklept

the-love-letter-1

View original post

Abstain

Dulu, saat SD, saya membayangkan sebuah bangsa yang damai, aman dan makmur dimana saya hidup didalamnya. Buku pelajaran dan guru menceritakan pengetahuan itu dan kurekam dengan baik-baik. Namun kadangkala ingatan itu hilang bersama berlalunya waktu. saya yang kecil dulu belum bisa berpartisipasi, sekarang dengan usia yang cukup, diikutkan menentukan suara. Suara yang penting untuk bangsa, setidaknya itu ajakan beberapa gambar, baliho dan iklan di sekitarku.

Ketika hari ini datang sebuah undangan untuk pemilihan gubernur Sulsel. Ingatan itu muncul lagi. Saya selalu takut jika diperhadapkan pada sebuah pilihan. Ya bisa dikatakan takut salah pilih atau malah takut tak dapat mengikuti pemimpin yang saya pilih itu ke depannya. Sebab, jika menafsirkan bahasa tentang pemimpin, yang ada adalah sosok yang memiliki sikap dan tentu tingkah laku, yang tercermin dari pemahaman akan kebenaran dan keadilan. Kadang pemimpin ini mengklaim telah mewujudkan bangsa impian saya itu, namun realitasnya masih jauh. Mungkin kita merasa aman damai dan makmur namun jauh dari kebenaran dan keadilan, malah terjadi pembodohan besar-besaran. Dan mana mungkin menuntut kebenaran dan keadilan dalam keadaan bodoh.

Memasuki bilik suara dan mencoblos gambar calon pemimpin itu, memang gampang (kan!). Tapi ingatan tentang perwujudan bangsa yang makmur, aman, damai dan sejahtera butuh pertimbangan (bertapa juga boleh!). Setidaknya, saya harus mengetahui siapa-siapa mereka yang berani mengajukan diri. Ada tiga (3) pasangan saat ini. No.1 IA, no.2 Sayang dan No.3 GarudaNA (saya tak menyebutkan nama aslinya karena mereka lebih sering dan senang menyebut dirinya dengan inisial). No.1 adalah pasangan walikota dan tokoh agama, dalam kampanye mereka mengusung semangat baru, entah semangat dari mana sehingga dinamakan semangat baru. Mungkin saat ini jaman Baterei jadi perlu cazz (charge) jika terjadi lowbatt  mereka inilah energi barunya. Pertanyaannya kemudian adalah darimana kita mengetahui bahwa mereka benar-benar baru. Sang walikota masih memimpin kota Makassar dengan segala keruwetan transportasi yang mulai muncul. Dan tata kota yang dipenuhi ruko. Menyulap ruang-ruang publik beraroma bisnis.

Selanjutnya No.2, dia masih jadi Gubernur dan menginginkannya lagi. Masa baktinya digunakan dengan sebaik-baiknya untuk membangun jaringan keluarga. Klaimnya dalam kampanye kemarin, tak ada kasus korupsi yang pernah terjadi dengan dan bawahannya. Padahal baru saja salah satu anak buahnya berinisial tersandung kasus korupsi. Sang Gubernur pun melenggang pura-pura tak tahu dengan apa yang terjadi, tak pernah menyinggung kasus tersebut. Dan mulailah dengan cara mengalihkan perhatian orang-orang dengan prestasi yang entah apa dia benar-benar punya andil di sana.

Pasangan no.3, ada sedikit daya tarik untuk memilih pasangan ini. Dari gaya kampanye yang mengingatkan Gubernur Jokowi-Ahok yang fenomenal, baju kotak-kotak dan beberapa Program yang menurutku tidak mengawang-ngawang dari kedua calon diatas. Tapi rasa pesimis begitu melekat pada pasangan ini. Pesimis suaranya kalah, mungkin itu yang dirasakan orang-orang hingga survei pun menunjukkan hal yang sama. Dia menjadi bayang-bayang kedua calon diatas dan terlihat hanya sebagai kopian Jokowi-Ahok dari baju kotak-kotaknya.

Sejatinya, pemimpin adalah mereka yang dapat membawa rakyatnya ke arah keadilan dan kesejahteraan. Mungkin banyak lagi yang kita inginkan dari sebuah kepemimpinan. Anda bisa memasukkan soal moral atau apapun dimana anda bisa melihat kejayaan bangsa. Demokrasi yang terjadi memaksa kita untuk memilih sebuah pilihan yang sangat minimal. Seiring dengan ungkapan, setidaknya dia sukses dalam perekonomian (walaupun yang menguasai keluarganya saja) atau setidaknya dia membuat kota makin modern (dan menyingkirkan rakyat kecil dan simbol lain selain pembangunan fisik)

Kalaupun ada niat baik untuk membangun bangsa, para calon entah pengaruh darimana memilih cara-cara tidak etis berkampanye. Akhir-akhir ini SMS salah satu pasangan calon datang bertubi-tubi, isinya tentang hal-hal negatif lawan politiknya. Politik uang, atau iming-iming pada daerah tertentu juga masih menjadi cara ampuh yang mereka pilih. Hal yang membuatku meragukan demokrasi, sebab suara minoritas (atau yang tak memilih mereka) akan terabaikan. Konsentrasi tim sukses lebih mengarah pada segala cara menjatuhkan lawan tanpa peduli bahwa kampanye mereka adalah sebuah pembodohan.

Jika ada kebebasan untuk memilih mereka maka untuk kali ini, saya memilih abstain.

 

Telaga Safar, 5 Januari 2013

#Update: Pasangan No.2 sebagaimana ditetapkan KPU telah memenangkan Pilgub Sulsel, Hari ini (13 Januari 2013) pasangan No. 1 menggugat kemenangan pasangan No.2 Ke Mahkamah Konstitusi.

Damai

Seringkali dalam hidup, saya menginginkan kedamaian. Ketika saya kembali ke rumah, bertemu pacar, nongkrong bersama teman, menyapa orang tak kukenal atau menonton laku aktor di TV, saya ingin berdamai dengan mereka. Kami tak perlu berbeda apalagi untuk bertengkar. Ini mempengaruhi kondisi fisik diriku, mata berkunang-kunang, kepala pusing, badan menggigil dan dalam beberapa hal mengurangi rejeki. Konflik bisa menutup pintu-pintu rejeki sementara beberapa orang, termasuk saya. Kedamaian yang kuartikan saat itu adalah sebuah kompromi. Sebab mengalah bisa menyelesaikan masalah yang ada.

Namun diantara kompromi, kedamaian terasa sesuatu yang salah. Kedamaian yang dipaksakan terasa paradoks. Begitupula kebahagiaan (buah dari kedamaian?), dia kadang muncul seperti fatamorgana, tampak kelihatan namun sesungguhnya hanya sebuah ilusi. Kesabaran dan kepengecutan jadi tipis perbedaannya. Seseorang berkata “Sabarlah sebab nanti semua akan terlewati dan akan indah pada waktunya” ini sama saja dengan membuat diri ketakutan menghadapi masalah. Jika sebuah ayat mengatakan Setiap orang akan diuji berdasarkan kemampuannya maka perlu untuk melihat kembali sejauh mana masalah itu terjadi. Karena yang ada dalam pikiran adalah usaha lari dari kenyataan.

Apakah yang dipikirkan seorang pengecut, bukankah dia selalu berpikir untuk mengamankan dirinya. Apakah tidak mencoba menelisik apa yang terjadi? bukankah Tuhan memerintahkan untuk membaca? dalam badai akan lahir pelaut ulung, begitu kata orang bijak. Pelaut tak selamanya berlayar di lautan tenang, kadang dia terjebak dalam ombak tinggi. Saya lupa-lupa ingat dengan sebuah film tentang sekelompok nelayan yang mencari ikan justru di lautan yang bergejolak. Katanya ikan-ikan besar sangat mudah di dapatkan disana, namun teramat berisiko. Mungkin pelaut mengenal dengan baik lautnya, seperti saya mengenal keluarga, kekasih, teman dan pejabat di sekitarku. Tapi pelaut ulung juga mengenal badai lautnya, dia mengenal baik kapal dan orang-orang bersamanya. Tak seperti diri yang terasing dari sekelilingnya. Di film itu, memang berakhir tragis, mereka mati di lautan bergejolak.

Munginkah saya takut dengan ending tragis seperti itu. Pelaut Ulung, mati tidak dalam ketidaksia-siaan, pelaut melalui proses panjang untuk mengenal badai dan kapalnya. Entah apa agamanya, tapi dia membaca, sesuatu yang diperintahkan Tuhan yang kupercaya. Kalau begitu seperti tak ada kedamaian jika proses membaca dilakukan. Mungkin, kepala benar-benar sakit, badan meriang dsb dan pada akhirnya berakhir pada kematian. he, Mungkin sekali lagi ini mungkin, kedamaian hanya ada dalam kematian.