Bulan di Mata Eva

by tajamati

Hanya ada satu Bulan yang mengitari bumi, namun tidak bagi Eva. Bulan Malam ini membagi diri dan terlihat berdampingan.

Perempuan itu menghadapi hidup seperti biasa. Orang-orang kadang hanya sekilas bergunjing tentang rumah tangganya yang gagal. Kadang memang dia larut dalam omongan orang disekitarnya, namun dia lebih memilih untuk menghindar. Suatu waktu pula dia bisa lupa dengan kepergian lelaki yang belum genap setahun bersama. Eva banyak melakukan kegiatan, mulai dari belajar tata boga di sebuah perkumpulan perempuan hingga menjadi aktifis lingkungan. Sebab kata seorang teman, kita punya kekuatan untuk meniadakan ingatan dan menggantinya dengan ingatan baru.

Hanya saja Lelakinya pergi tanpa sebab yang diketahui pasti. Eva tak mengerti, apalagi mereka yang diluar sana. Rumah tangga Eva adalah sasaran empuk berbagai gunjingan. Namun waktu juga kadang bisa mengubur kebiasaan menjadi kebosanan. Orang-orang lalu kehilangan akal sebab Eva masih begitu-begitu saja, masih sendiri dan tak ada lelaki lain yang mendekati. Orang-orang lupa tapi Eva tidak.

Malam itu, saat bulan Purnama, sehabis menuliskan beberapa kata dalam diari. Eva menuju beranda, lalu duduk menghadap rembulan. Hening sesaat, hanya hela nafasnya sendiri yang terdengar. Eva masih tak bisa mendengar kabar tentang lelakinya. Pertanyaan terbesar ketika seseorang kehilangan adalah dimana, bagaimana gerangan sang peneduh hati. Eva ingin menggugat tapi entah pada siapa. Bukankah seharusnya lelaki itu yang mendengar, tapi ia menghilang bak ditelan bumi. Bukankah lelaki itu yang harus berbicara. Eva diliputi duka, luka tentang mereka yang harus ditinggalkan dalam kebingungan.

Angin bertiup pelan, Eva masih memandangi langit. Di sana ada satu bulan, namun di mata Eva bulan telah terbelah… mengabur oleh air mata.

Ditulis di Ruang Acak
#Belajar Bercerita

Advertisements