tajamati

A topnotch WordPress.com site

Month: June, 2012

Bulan di Mata Eva

Hanya ada satu Bulan yang mengitari bumi, namun tidak bagi Eva. Bulan Malam ini membagi diri dan terlihat berdampingan.

Perempuan itu menghadapi hidup seperti biasa. Orang-orang kadang hanya sekilas bergunjing tentang rumah tangganya yang gagal. Kadang memang dia larut dalam omongan orang disekitarnya, namun dia lebih memilih untuk menghindar. Suatu waktu pula dia bisa lupa dengan kepergian lelaki yang belum genap setahun bersama. Eva banyak melakukan kegiatan, mulai dari belajar tata boga di sebuah perkumpulan perempuan hingga menjadi aktifis lingkungan. Sebab kata seorang teman, kita punya kekuatan untuk meniadakan ingatan dan menggantinya dengan ingatan baru.

Hanya saja Lelakinya pergi tanpa sebab yang diketahui pasti. Eva tak mengerti, apalagi mereka yang diluar sana. Rumah tangga Eva adalah sasaran empuk berbagai gunjingan. Namun waktu juga kadang bisa mengubur kebiasaan menjadi kebosanan. Orang-orang lalu kehilangan akal sebab Eva masih begitu-begitu saja, masih sendiri dan tak ada lelaki lain yang mendekati. Orang-orang lupa tapi Eva tidak.

Malam itu, saat bulan Purnama, sehabis menuliskan beberapa kata dalam diari. Eva menuju beranda, lalu duduk menghadap rembulan. Hening sesaat, hanya hela nafasnya sendiri yang terdengar. Eva masih tak bisa mendengar kabar tentang lelakinya. Pertanyaan terbesar ketika seseorang kehilangan adalah dimana, bagaimana gerangan sang peneduh hati. Eva ingin menggugat tapi entah pada siapa. Bukankah seharusnya lelaki itu yang mendengar, tapi ia menghilang bak ditelan bumi. Bukankah lelaki itu yang harus berbicara. Eva diliputi duka, luka tentang mereka yang harus ditinggalkan dalam kebingungan.

Angin bertiup pelan, Eva masih memandangi langit. Di sana ada satu bulan, namun di mata Eva bulan telah terbelah… mengabur oleh air mata.

Ditulis di Ruang Acak
#Belajar Bercerita

Advertisements

The Rain

Sudah lama hujan tidak turun di kota ini. Sepertinya musim kemarau segera tiba, di sudut-sudut jalan rumput liar mulai menguning. Rerumputan selalu berubah warna saat tak ada lagi air pemasok kehidupan, walaupun ada diantaranya yang dapat bertahan dengan berbagai cara. Berpura-pura me-layu atau menyimpan generasi mereka di dalam tanah.

Aku sendiri takut hujan, namun tetap menyukainya. Bukan soal dingin yang dibawanya atau sebuah penjara tercipta dari tetesan panjangnya. Namun hujan telah mengasingkan diriku dari kehidupan, dari seseorang yang disebut kekasih.

Hujan di awal Januari 2010

Awal Januari 2010, saat datang pesan darinya. Saat itu pula hujan turun deras, menciptakan kerangkeng besar untukku. Apa yang kan kulakukan dengan sebuah pesan perpisahan dari sang kekasih. Hujan mungkin ingin menghiburku, ku dengar hujan berkata “dengarlah musik melantun dari atap-atap rumah yang kudatangi, aku tak tahu dengan orang-orang yang menghindariku, tapi aku akan menyanyikan lagu yang sama”

Nyanyian hujan ketika berhenti meninggalkan sebuah pesan perpisahan. Apa yang kau rasakan ketika hujan reda, kosong… dan kau berharap dia datang lagi. Inilah ingatan tentang hujan bagiku.

a Picture from My Bro!

Ini hasil jepretan kakak saya. Kakak lagi gandrung dengan kamera, dah banyak fotonya dipublish di FB. Saya suka yang satu ini, landskap di sebuah tempat di Bengkulu. Ini gambar selengkapnya.

i have long road to back home


Entah apa arti yang sebenarnya dari judul diatas? hehe saya juga tidak tahu, maksudna saya mau menyampaikan keinginan melakukan perjalanan kembali ke rumah, tapi english nya dah cocok apa belum?! begitulah!

dear pembaca… (mudah2an admin wordpress ini membacanya, bukan ingin berbicara khusus dengan dia. Tapi mungkin hanya dia yang liat blog ini… haha tentunya juga mereka yg tersesat di sini) beberapa hari ini keinginanku tuk melakukan perjalanan makin menggebu-gebu (bukk-bukk-bukkk begitulah bunyinya!!! :p) sudah lama keinginan meninggalkan dunia yang membosankan ini terpendam. Menjadi alien di muka bumi, bukanlah pekerjaan yang menyenangkan.

selanjutnya… apa? #apaliatliat

saya ingin ke gorontalo, bertemu norman kamaru! alah, bukan dia. Hanya saja hidup tanpa hasrat adalah hidup yang tak pantas dijalani. sekarang saya punya hasrat dan tak ingin melepaskannya lagi. kan kutuliskan kisah perjalanan ini, ya di dalam blog ini…

*ditulis di sebuah ruang acak di Makassar