tajamati

A topnotch WordPress.com site

Month: September, 2011

Doa Subuh Bapak

Sangat jarang aku menemui Subuh. Hanya saat tertentu saja aku menjumpainya, seperti ketika menjadi mahasiswa baru, hukuman dari kakak senior akan kudapatkan bila tidak secepatnya sudah harus di jalan depan kampus kami dulu. Atau pada saat shalat idul fitri, segera menyambut syawal, mandi pagi lalu secepatnya ke masjid Ibu yang selalu membangunkan kami anak-anaknya untuk. Aku tak tahan dengan dinginnya udara subuh, jikalau kuhitung maka setiap subuh adalah gerutu bagiku.

Namun subuh itu, di hari ketiga lebaran saya terbangun dengan teramat segar, padahal tidurku baru saja dimulai. Tak seperti biasanya suasana ini kurasakan. Lebaran kali ini kami hanya bertiga Bapak, Ibu dan saya sendiri, saudara-saudaraku yang lain berada di rumah lain, jauh disana. Aku bergegas ke kamar kecil di ujung kanan. Saat itulah aku melihat bapak juga sudah bangun, tampaknya bapak sudah siap ke Masjid, lengkap sudah dengan kopiah andalanya. Tak ada sepatah kata pun saat kami berpas-pasan, saya terus saja berjalan menuju kamar kecil ketika terdengar derik pintu depan, Bapakku sudah keluar rumah. Adzan sudah dimulai, sementara di kamar Bapak-Ibu tak ada tanda Ibu akan bangun.

Seolah kami kaum lelaki sepakat untuk tidak mengganggu tidur ibu di subuh itu. Ibu seharian bekerja keras menyiapkan pesta syukuran tetangga, beliau pasti sangat lelah hari ini. Ibulah sebenarnya yang membawa suasana religi di rumah kami. Hampir tiap malam beliau mengaji, mengingatkan kami, saya dan bapakku jika lupa bahkan pura-pura lupa untuk shalat. Absen shalat subuh sekali-kali aku pikir tidak apa buat ibu, toh sudah lama Mesjid tidak diisi oleh perempuan. Kaum perempuan di desaku termasuk ibu lebih suka shalat di rumah, walaupun ada hijab yang disediakan, perempuan hanya hadir di masjid seperti shalat lebaran kemarin.

Adzan sudah pertengahan, aku bergegas mengambil wudhu dan berlari kecil menuju masjid. Bapak belum mencapai masjid, kurasa rematik dan asam urat membuatnya makin melambat di usianya yang mulai senja. Bukan perkara sulit untukku mendahuluinya, tapi niat itu kuurungkan, aku tetap dibelakangnya, memandang langkah-langkah kecilnya. Ingatan kemudian membawaku dimana Bapak menjadi mandor di perusahaan rotan, bapak sangat kuat, rotan berkilo-kilo diangkatnya sendiri. Mungkin inilah cerita waktu, beralih-alih hidup kemudian mati. Seperti aku yang muda berjalan dibelakang Bapak yang mulai termakan umur.

Berbeda dengan Ibu, bapak punya bekal ilmu agama kalau mau dibilang pas-pasan. Aku sering mendengar Ibu mengajarinya menghapal surat-surat pendek. Sejak sakit itu menggorogotinya, bapak lebih banyak shalat sendirian, itu pun dilakukannya dengan duduk, surat-surat itu wajib dibacanya. Diawal menikah dengan Ibu hingga lahir anaknya yang keempat, Bapak lebih banyak menghabiskan waktunya di perantauan. Kadang Ibu ikut dengannya, tapi paling hanya setahun selebihnya Bapak hidup sendiri. Akhirnya Bapak Ibu dapat berkumpul setelah perusahaan tempat Bapak bekerja gulung tikar akibat rotan yang makin punah. Dan kesempatan mengenal agama pun baru didapatkannya saat itu.

Entah apa yang terjadi pada Ibuku, kepulangan bapak terasa biasa-biasa saja. Seringkali Ibu mencurahkan isi hatinya, kegundahan ditinggalkan Bapak cukup lama. Bapak lebih banyak diam di hadapan kami. Bapak dan Ibu memang sangat pandai menyembunyikan pertengkaran mereka. Entahlah mereka punya cara sendiri untuk bertengkar. Cerita pun berputar, Ibu yang masih kuat walaupun rentan sakit, memilih bekerja di pertambangan tradisional di daerah yang jauh. Akhirnya Bapak yang sebelumnya sering meninggalkan kami, kini menjadi penghuni satu-satunya di rumah. Lebaran kali ini pun tidak berhasil mempertemukan semua anggota keluarga. Hanya saya anaknya yang belum bekerja dan berkeluarga yang mudik ke kampung halaman.

Ibu tampak makin tidak tahan dengan keadaan yang dihadapinya. Bapak seperti pria bodoh yang dinikahinya. Seperti ada ancaman dan penyesalan di setiap ucapan ibu ketika membicarakan Bapak. Saat makan malam berlangsung, Ibu lebih banyak bicara, Bapak lebih banyak diam. Namun amarah pun tak terbendung, Bapak tak menerima pernyataan Ibu, dibentaknya Ibu lalu bergegas masuk ke kamar. Aku hanya diam, seumur-umur inilah pertama kali aku melihat pertengkaran mereka.

Ramadan berlalu, Syawal pun telah menuju pertengahan. Subuh itulah aku melihat Bapak coba menghimpun kekuatannya kembali. Jarak masjid tidak terlalu jauh dari rumah kami, tapi melihat langkah bapak sepertinya kami akan ketinggalan qamat muaddzin. Aku tetap tak berani mendahului bapak, masuk ke pintu masjid pun tidak, apalagi mengambil saf di depannya. Saat pulang saya tetap berada dibelakangnya. Tak sepatah kata keluar dari kami, hanya diam saja.

Udara makin dingin, beberapa tetangga yang bekerja sebagai pedagang mulai sibuk. Tapi kesenyapan lebih berkuasa atas kampung kami saat subuh, aktifitas manusia saat subuh belum mampu mengalahkannya.
Aku tak mengerti Bapak, mungkinkah dia sedang menjalankan terapi ataukah ia sedang melanjutkan pelajaran agamanya. Pernah Bapak bilang padaku kalau segala ucapan Ibu adalah sabda baginya, sebab dia begitu mencintai Ibu. Ataukah ini adalah perjalanan spiritual bapak, manifesto keimanan di kala kematian semakin mendekat. Tapi mengapa Bapak hanya memilih subuh untuk ke Masjid? Bukankah dia bisa melakukannya saat shalat Isya atau Maghrib juga. Aku masih memikirkannya saat terdengar tawa kecil Ibu dan Bapak dari kamar mereka. Bapak telah membangunkan Ibu untuk mengambil wudhu. Mungkinkah itu akhir Doa subuh bapak, sebab saat itu dia mencoba menjadi imam di keluarga kami.

Belajar tentang Rasa

Bagaimana tentang orang-orang yang menikmati musik mereka saat diatas panggung, bagaimana tentang orang-orang yang memandangi tulisan dengan takjub, dan bagaimana dengan gerakan orang-orang yang seolah tak mau berhenti menari. Ini semua tentang rasa, rasa yang membuat mereka mencintai.

Rasalah yang membuat masakan menjadi tidak hambar, tidak sekedar sampah yang memasuki lambung tengah. Rasalah yang menciptakan kerinduan. Rasa menciptakan wangi yang berbeda, seperti Tuhan yang menciptakan manusia, tak ada yang sama.

Akan Kunikmati Amarah, Gelisah dan Ketakutan ini Sendiri

Cukup sudah mendapati diri dalam ketidakberdayaan,
Kebahagiaan milik kita masing-masing
Tak kan ada yang memaksa atau terpaksa

JIka kau membaca ini maka saat itulah semuanya menjadi asing
Akan kunikmati Amarah, Gelisah dan Ketakutan ini Sendiri