Roda Pedati Masih Berputar

Siapa yang kan mengira di mana pada akhirnya kita berlabuh, sementara nasib diserahkan pada berjalannya waktu. Hari ini aku sudah merencanakan tuk berpindah tempat lagi. Seperti kawanku yang lebih dulu pergi, mungkin aku akan merindukan tempat ini, diam-diam menanyakan kabarnya dari kejauhan.

Terus terang aku sempat kerasan di tempat ini. Aku belajar, aku mengarang, aku menyimpan setiap memori yang kudapatkan di hari saat bekerja. Namun, ada saja yang tak cukup. Seorang kawan mengatakan padaku, hari pertama bekerja engkau akan menuruti segala perintah atasan namun di hari selanjutnya engkau akan melawannya. Tadinya aku tak setuju dengan pendapatnya, harusnya melihat konteks dulu mengapa seseorang harus melawan majikan.

Pada akhirnya Ketakadilan itu mulai kurasakan ketika tak ada kontrak yang jelas dalam bekerja. Waktu dan jam kerja mulai tak dibatasi. Pernah antara aku dan majikan membicarakan tentang kelanjutan “karir” ku, saya akan dikontrak. Tugasnya merangkap segalanya, apa saja yang akan dibutuhkan kantor. Gajinya? kata majikan Liatlah bagaimana kondisi keuangan kita! harga di Setengah UMR itu sudah cukuplah untukmu!

Roda pedati mungkin berjalan lambat, tapi kuyakinkan diriku bahwa Roda akan terus bergerak. Setelah lebaran ini aku sudah memutuskan untuk meninggalkan tempatku bekerja. Mencari kehidupan diluar sana, entah buruk atau lebih baik. Yang pasti tempat ini tidak memberikanku hal yang lebih baik.