tajamati

A topnotch WordPress.com site

Month: June, 2011

Malam Ini Gerhana Bulan

Kamis Subuh, dimana gerhana bulan terlama diprediksikan akan berlangsung dan dapat dinikmati di hampir seluruh wilayah Indonesia. Gerhana bulan yang mengakibatkan air pasang naik lebih tinggi dari biasanya. Rinduku pada bulan, cahayanya remang menyejukkan. Ada yang bilang, rembulan adalah media kerinduan kepada baginda Rasul sebab kekuatannya pernah membelah bulan. Tataplah bulan saat bersinar di ufuk, rasakan kehadirannya.

Malam ini gerhana bulan, terang dan gelap hanya sesaat setelah itu cahayanya menyelimuti malam mengajak tuk merenungi kehidupan.

Sakit Leher, leherku sakit

Sudah kubilang leherku akan sakit tapi selalu saja aku menahannya, membatahnya sendiri bahwa itu takkan terjadi. Hehe, kadangkala jika terjadi gejala sakit pada diri kita biasanya obat yang paling mujarab adalah membiarkan itu semua baik-baik saja. Dan memang sih dengan pengalihan, maka kita akan melupakan bahwa kita akan sakit.

Tapi akhirnya saya menyerah juga. Rabu, 1 Juni 2011, saat mentari mulai menyodorkan sinarnya ke kamarku, saya terbangun dengan tidak tenang,hehe semalam mimpi buruk. Rasa terkejut yang terjadi mengakibatkan leherku sepertinya salah urat, tak bisa digerakkan ke samping kiri.

Kumulailah pengobatan tradisional campur trik psikilogi, menganggap bahwa tak ada yang sakit di tubuh ini. hahaha…trik ini lumayan manjur untuk beberapa saat tapi tidak untuk saat tertentu.

Esoknya, walaupun hari libur, saya tetap masuk kantor. Semuanya masih baik-baik saja ketika sampai Pak Boss berdiri di sampingku, menugaskan membuka emailnya. Saya tidak mendengar dengan baik perintahnya, karena leher agak susah digerakkan, kaku, walhasil Boss menganggap ini Patotoai, tak memperhatikan dia bicara.

Otomatis hari ini adalah hari mendengarkan ceramah, untuk hari libur yang damai, Sakit Leher yang semakin menjadi karena serba salah. Goyang kanan-goyang kiri keseleo ndak sembuh-sembuh.

Pesan Moralnya, Anggap bos mu tidak ada. Lehermu pasti baik-baik saja.

Mata Rango* dan Kegelapan

Mata Rango menatap tajam ke arah ruag gelap itu. Ada apakah di sana? Kegelapan itu pernah akrab dengannya bahkan menjadi bagian dari jiwa dan harapanya. Namun kini kegelapan membuatnya tak melihat apa-apa, kosong. Kegelapan selalu memiliki misteri dan saat ini Rango tak dapat memecahkannya.

Rango bertanya pada dirinya sendiri, siapakah aku? Peradaban telah membawa Rango tak tahu dari mana dia berasal dan akan kemanakah tujuan hidupnya. Rango menyukai Facebook sebab dia dapat bertemu dengan orang-orang yang mengantarkan ke masa lalu dan kenangannya. Hanya semburat kata-kata di jaringan sosial itu yang dapat menemaninya belajar tentang diri dan kehidupannya. Tetapi tak dapat memuaskan hatinya sebab tak ada jawaban abadi di sana. Orang-orang yang ditemuinya hanya sibuk bermain kata-kata.

Suatu hari Rango menatap cermin, mencoba mengenali setiap lekuk wajahnya. Tak ada apa disana, hanya beberapa noda yang sulit tuk dihilangkan hanya dengan sabun Lux. Rango tetap tak bisa ingat siapa dirinya. Inilah kegelapan yang sedang dihadapinya. Bagi Rango persoalan terbesar di dunia adalah menentukan siapa diri kita.

Rango memutuskan untuk berakrab ria dengan kegelapan itu, mungkin saja kegelapan itu adalah dirinya sendiri. Rango merasakan dirinya ketika tak dapat melihat apa-apa, namun samar-samar dia mulai merasakan keberadaannya. Merasakan bahwa ada sesuatu di dalam kegelapan itu, sesuatu dan bergerak, bernafas, berkata dan menalar bahwa kegelapan adalah sebuah terang ketika dia mulai menikmati setiap inci nafas kehidupan.

*meminjam nama Rango di film berjudul ‘Rango’