Proyek: tak pernah selesai

by tajamati

Tempat tinggal kami hanya beberapa meter dari sebuah universitas ternama di Indonesia Timur. Universitas yang mencanangkan go internasional tahun…? pokoknya sudah tidak lama lagi deh. Tempat yang menjadi surga bagi mereka yang mencari Ilmu juga yang ingin hidup lebih baik lagi.

Universitas yang mengambil nama besar Hasanuddin ini (pernah melawan penjajah) lagi berbenah. Geliat itu terlihat banyaknya bangunan baru, juga renovasi gedung-gedung lama termasuk selokan yang kini melintang tepat di depan pondokan kami.

Pembangunan ini tentunya menjadi lahan bagi mereka yang ingin hidup lebih baik. Ya mereka memenangkan tender proyek yang ada. Namun kabarnya tender yang harusnya fair hanya dimenangkan oleh karib dekat sang penguasa kampus.

Selokan yang di depan rumah kami hampir 100 persen selesai. Selokan atau sungai kecil ini berhulu di Rumah Sakit Wahidin yang juga adalah kerabat universitas tetangga. Tampaknya selokan ini dibuat untuk menghindari danau buatan miliknya juga. Mereka tak ingin limbah itu membunuh anak-anak ikan yang konon kabarnya sedang dipelajari mahasiswanya. Apa jadinya jika ikan yang ingin dibedah mati keracunan mengambang di atas permukaan danau. Atau ikan-ikan itu bermetamorfosis menjadi spesies baru akibat zat-zat asing, tiba-tiba mujair yang lucu imut-imut menjadi mujair raksasa yang siap memangsa anak-anak SD yang sering kali mandi di danau buatan itu. hih

Danau Unhas

Danau di depan rumah kami


Tetangga kami memang cerdas, mereka bisa membelokkan limbah menghindari danau buatan. Tapi entahlah selokan itu malah menjadi petaka bagi kami tetangganya. Sejak dulu kami berhubungan memang tak terlalu akrab, biasanya sih kalo mereka membangun tak pernah bilang-bilang pada kami.

Selokan itu memang hampir 100 % jadi. Namun konstruksinya aneh, hilir yang seharusnya menghindari danau malah bertemu dengan sisi danau lainnya. Jadi tak ada gunanya membuat selokan jika limbah masih bisa bercampur dengan air danau yang ingin dijaga.

Kini air limbah itu tinggal menunggu waktu untuk melewati selokan. Hujan juga seakan tak ingin ketinggalan mencoba selokan baru itu. Permukaan air danau yang lebih tinggi dari dasar selokan juga ikutan masuk ke sana. Melihat stok air yang masih banyak di danau buatan maka tampaknya selokan tak mampu menampung, apalagi retakan mulai tampak di dinding-dindingnya.

Seorang teman yang pernah menjadi tukang mengatakan semen yang digunakan adalah semen kualitas terendah. Murah sih harganya tapi gampang rusak. Sepertinya yang punya proyek menyadari kekuatan selokannya. Oleh karena itu di suruh pekerjanya membobol dinding selokan agar air dapat keluar dan tidak membahayakan kehancuran proyek mereka.

Kenyataannya adalah air itu malah masuk ke halaman rumah kami. Dan sebentar lagi, mungkin disaat tulisan ini dbuat air sudah menenggelamkan rumah kami yang lebih rendah lagi dari dasar selokan…

oh tetangga yang baik mengapa tak ada perbincangan sebelumnya, apakah keangkuhanmu tak tergoyahkan juga oleh protes-protes dari kami yang juga pernah menimbal ilmu di tempatmu.

Begitulah cerita tentang proyek yang tak pernah selesai. Terjadi di saat ini di dekat sebuah tempat bersemayamnya orang-orang cerdas dan bijak bestari.

Advertisements