tajamati

A topnotch WordPress.com site

Month: December, 2010

Hidup – Iwan Fals

Lama tak mendengarkan beliau, lagu lama di Album Hijau berjudul  Lagu Satu (Hidup).

 

Karbala

Seperti hari  ketika duka menghampiri engkau

Menyaksikan darahmu mengalir

Saat beribu penyesalan tumbuh di hati

Karbala, perang itu tak pernah usai

Salam dan Salawat untukmu ya Rasul

 

 

 

Selalu saja ada kejutan-kejutan kecil di hidup ini. Pukul 07.33 Wita saat aku masih tertidur, tone sms berbunyi sekali di hp ku. Sebuah SMS dari Telkomsel memberitahukan jika nomorku mendapat 100 menit dari penukaran poin Telkomsel. Sejak kapan saya menukar poin? lagi pula poin ku tak cukup untuk penukaran. Bikin penasaran saja,

Terima Kasih jika ada yang telah iseng mengirimkan, kalo pun tidak ya terima kasih buat Telkomsel atau orang yang tidak sengaja telah mengirimkan menit gratisan. Betapa pun sebuah kebaikan juga harus dibalas kebaikan, kata orang bijak, saya ingin membalas ini jika aku punya poin atau apalah tapi tak tahu pada siapa akan saya beri.

Jadi, Mengakulah!

:p

Bunga di Halaman Rumah Kami

Kembali buka-buka arsip foto lebaran kemarin, saat itu bunga-bunga yang ditanam ibu kami sedang bermekaran.

Tanda Cinta di Bunga?

Aku tidak banyak tahu nama-nama bunga, apa ada yang tahu nama bunga yang ada d blog ini?

Ada merah di ujungnya...

Ini lagi…

Ungu

Ada lagi satu,

Buah Tomat yang ikut mekar...hehe

Sekarang bunga-bunga ini mulai berguguran, ada malah yang mati. Mungkin umur mereka pendek atau tak ada lagi yang merawat bunga-bunga itu. Sejak ibu meninggalkan rumah (biasanya berbulan-bulan di tempat kerjanya) tak ada yang mengurus taman kecil di halaman rumah kami. Hanya ibu dan adik perempuanku yang pandai merawat bunga-bunga itu, kami anak lelaki hanya jadi pengagumnya. Bunga dan perempuan-perempuan di keluarga kami… hehe

Pesan Somba Opu yang Tak Terbaca

Salah satu situs sejarah di Sulawesi Selatan, Benteng Somba Opu, akan dibuatkan taman hiburan jenis Water Boom di dalam kompleksnya. Pembangunan sedang dilakukan saat ini. Kabar dari seorang teman mengatakan ini kebijakan pemerintah yang selanjutnya diserahkan ke swasta pengelolaannya.

Apa yang bisa kita maknai dari sebuah situs sejarah. Generasi hari ini apakah memang harus putus dari sebuah masa lalu. Apakah pemimpin sekarang tak ingin merindukan kisah-kisah nenek moyang mereka. Situs sejarah adalah media bagi kita yang hidup saat ini. Sebuah pesan yang ingin dikabarkan nenek moyang kepada cucu-cucunya.

Bagaimana kita akan menjaga sebuah hikmah jika kita tak pedulikannya. Benteng Somba Opu menjadi pesan kebijakan dari mereka yang telah merasai kehidupan lebih dulu. Dengarlah bagaimana patriot rakyat dan rajanya melawan penjajah yang memaksakan kehendaknya di bumi kita. sekarang di tempat itu pemimpin kita ingin membuat seluncuran air, yang kabarnya juga warisan kapitalis itu.

Apakah kita begitu angkuh dengan nilai-nilai yang menyejarah. Ataukah pemimpin kita tak bisa membaca pesan-pesan itu. Jika tak bisa, serahkan saja kuasa untuk mereka yang bisa memaknai sejarah.

Untuk mereka yang beraksi menentang, semangat!

Proyek: tak pernah selesai

Tempat tinggal kami hanya beberapa meter dari sebuah universitas ternama di Indonesia Timur. Universitas yang mencanangkan go internasional tahun…? pokoknya sudah tidak lama lagi deh. Tempat yang menjadi surga bagi mereka yang mencari Ilmu juga yang ingin hidup lebih baik lagi.

Universitas yang mengambil nama besar Hasanuddin ini (pernah melawan penjajah) lagi berbenah. Geliat itu terlihat banyaknya bangunan baru, juga renovasi gedung-gedung lama termasuk selokan yang kini melintang tepat di depan pondokan kami.

Pembangunan ini tentunya menjadi lahan bagi mereka yang ingin hidup lebih baik. Ya mereka memenangkan tender proyek yang ada. Namun kabarnya tender yang harusnya fair hanya dimenangkan oleh karib dekat sang penguasa kampus.

Selokan yang di depan rumah kami hampir 100 persen selesai. Selokan atau sungai kecil ini berhulu di Rumah Sakit Wahidin yang juga adalah kerabat universitas tetangga. Tampaknya selokan ini dibuat untuk menghindari danau buatan miliknya juga. Mereka tak ingin limbah itu membunuh anak-anak ikan yang konon kabarnya sedang dipelajari mahasiswanya. Apa jadinya jika ikan yang ingin dibedah mati keracunan mengambang di atas permukaan danau. Atau ikan-ikan itu bermetamorfosis menjadi spesies baru akibat zat-zat asing, tiba-tiba mujair yang lucu imut-imut menjadi mujair raksasa yang siap memangsa anak-anak SD yang sering kali mandi di danau buatan itu. hih

Danau Unhas

Danau di depan rumah kami


Tetangga kami memang cerdas, mereka bisa membelokkan limbah menghindari danau buatan. Tapi entahlah selokan itu malah menjadi petaka bagi kami tetangganya. Sejak dulu kami berhubungan memang tak terlalu akrab, biasanya sih kalo mereka membangun tak pernah bilang-bilang pada kami.

Selokan itu memang hampir 100 % jadi. Namun konstruksinya aneh, hilir yang seharusnya menghindari danau malah bertemu dengan sisi danau lainnya. Jadi tak ada gunanya membuat selokan jika limbah masih bisa bercampur dengan air danau yang ingin dijaga.

Kini air limbah itu tinggal menunggu waktu untuk melewati selokan. Hujan juga seakan tak ingin ketinggalan mencoba selokan baru itu. Permukaan air danau yang lebih tinggi dari dasar selokan juga ikutan masuk ke sana. Melihat stok air yang masih banyak di danau buatan maka tampaknya selokan tak mampu menampung, apalagi retakan mulai tampak di dinding-dindingnya.

Seorang teman yang pernah menjadi tukang mengatakan semen yang digunakan adalah semen kualitas terendah. Murah sih harganya tapi gampang rusak. Sepertinya yang punya proyek menyadari kekuatan selokannya. Oleh karena itu di suruh pekerjanya membobol dinding selokan agar air dapat keluar dan tidak membahayakan kehancuran proyek mereka.

Kenyataannya adalah air itu malah masuk ke halaman rumah kami. Dan sebentar lagi, mungkin disaat tulisan ini dbuat air sudah menenggelamkan rumah kami yang lebih rendah lagi dari dasar selokan…

oh tetangga yang baik mengapa tak ada perbincangan sebelumnya, apakah keangkuhanmu tak tergoyahkan juga oleh protes-protes dari kami yang juga pernah menimbal ilmu di tempatmu.

Begitulah cerita tentang proyek yang tak pernah selesai. Terjadi di saat ini di dekat sebuah tempat bersemayamnya orang-orang cerdas dan bijak bestari.