Dendang Kesumat!

by tajamati

Ini bukan Dendam Kesumat tapi Dendang Kesumat. Dendam, sebuah kata yang bermaksud mengungkapkan rasa sakit karena niat atau tujuan entah oleh apa atau siapa yang kini hingga kini tak mampu ditaklukkannya. Apalagi apabila kata Dendam diikuti kata ‘kesumat’ di belakangnya.

Itu bisa berarti sebuah dendam yang telah lama disimpan di hatinya. Dendam yang kelak akan dibayar anak-cucunya. Itu kalo anak cucunya orang pemberani.

Sedangkan Dendang adalah kata yang mewakili sebuah senandung nada, sebuah irama atau apalagi yang bisa menggambarkan sebuah harmoni mengalun menyejukkan hati di kala sendu.

Dendang Kesumat sebuah frase, tak sengaja kudengarkan dari seorang anak kecil di gang sempit di rimba kota Makassar kemarin. Entah dia sengaja atau mungkin karena kebiasaan salah eja khas kota ini. Entahlah, walaupun lebih banyak kutemui sebuah kata berakhiran N yang otomatis bertambah G ujungnya. Kata berakhiran M baru kali ini kudengarkan berubah NG dibelakangnya.

Tapi sore itu di kala diri menyempatkan berjalan-jalan mencari kabar. Di sebuah gang sempit, Dendang Kesumat keluar dari sebuah bibir perempuan kecil yang bermain-main pedang dengan anak sebayanya. Apakah dia sedang ingin membalas dendamnya karena anak lelaki yang lebih darinya berhasil membuatnya tersungkur. Ataukah dia benar-benar mengucapkan kalimat “Akan kubalas dendang kesumatku! terima ini…!!!”

Aku meyukainya, aku mendengarkan dengan baik kalimat itu. Kurasa dendam kesumat ingin membalas perbuatan bocah lelaki bukan maksud yang sebenarnya. Saya percaya kalo ‘dendang kesumat’lah yang kudengar bukan ‘dendam kesumat’. Mereka begitu menikmati permainan, merasakannya seperti sebuah dendang lagu yang harmonis. Riang rasa itu, kurekam-kubawa untuk mereka yang kutemui hari ini.

Advertisements