Saat Sore di 1 Januari 2010

by tajamati

Tahun 2010 telah menjelang, kemeriahan tengah malam dihiasi dengan semburan kembang api di berbagai sudut kota, Makassar begadang malam tadi. Orang-orang tumpah ruah di jalan raya, berkumpul di anjungan pantai losari. Sebelum tertidur lelap, seorang teman sempat menceritakan kemeriahan malam tahun baru yg diikuti bersama pacarnya di pantai Losari1. Pukul 04.00 wita, ngantuk tak dapat ditahannya, dia lelah memandang dan meneriaki percikan-percikan api di langit losari, tadi.

Sekarang sudah sore, sebentar lagi malam menjelang dan menggenapkan sehari untuk tahun 2010. Entah sejauh mana yang telah orang-orang lakukan untuk mencapai daftar resolusi mereka, yang mereka ucapkan dalam bunyi terompet, yang terbang dan meledak di angkasa. Orang-orang keluar rumah malam ini, mereka tak takut tuk berbasah-basah ria karena hujan, tapi itu hanyalah ramalan cuaca. Mereka berharap. Hujanpun tak lebat malam ini2.

Apakah ini sebuah kemenangan? Karena ada gelas yang terangkat malam tadi. Juga parade kendaraan, meraung-raung , laiknya ada sebuah piala yang harus diarak dan diperlihatkan ke seantero kota3. Tapi tak ada piala itu, itu hanya kumpulan kawan yang memanggil kawan yang satunya lagi, dan seterusnya saling mengajak. “kita harus lebih bersemangat di tahun 2010”

Tapi akankah semangat akan terpotong oleh pergantian tahun, 2010 adalah semangat baru, kemana semangat lama. Apakah orang-orang kurang bersemangat di tahun 2009, mungkin ada yang tertunda ataukah segalanya telah berlangsung buruk di tahun-tahun lalu. Semoga tak dilupakan coretan yang pernah dibuat, sebab masa lalu perlu refleksi, masa lalu adalah ruang dimana cita dan keinginan pernah diikrarkan.

Disaat mata memandang kilatan cahaya kembang api cadangan, sekejap saja setelah pergantian tahun. Semalam, pukul 02.00 wita, jauh dari keramaian. Bukankah sekarang saatnya berdoa…

Pkl 04.26 wita at Telaga Safar

Ket :

  1. Kawan saya ini, beberapa malam belakangan ini tidur di kamarku, menyebut namanya bisa2 dunia bergetar. Dulu-dulunya sih kalo bertandang,selalunya dia bawa martabak atau terang bulan, malam ini dia sangat lelah, capek katanya, ya sudahlah nantilah klo nda capek lagi tradisi bawa buah tangannya jangan di lupakan…hehe piss!
  2. Nah ini berkat ramalan Kak Rahe, dulunya sewaktu gondrong saya selalu mempercayakan keadaan cuaca baginya. Pesimis juga sih saat dia potong rambut, takut ilmunya hilang. Ternyata, ramalannya masih manjur. Hehe..kak rahe sebenarnya tak peduli dengan ramalannya sendiri, dia selalu dapat menembus badai apapun jua. Hujan tak pernah jadi sangkar.
  3. Seperti parade PSM juara liga Indonesia tahun 1999. Saya berlari ke pinggir jalan hanya untuk melambaikan tangan ke Kurniawan Dwi Julianto dkk. Orang tumpah ruah, merayakan kemenangan.
Advertisements