No Campus For Old Student!

by tajamati

Huh…tinggal beberapa bulan lagi, aku akan di tendang keluar dari kampus merah. Rasanya tak percaya bisa berlama-lama begini, aku membayangkan diriku yang dulu, waktu pertama kali menginjakkan kaki di kampus. Serius dan menjalani hari-hari kuliah dengan semangat. Betapa kompak bersama kawan-kawan menjalani kuliah di semester awal. Aku tak mencoba tuk tak melewatkan satu pelajaran pun. itulah semangat seorang mahasiswa baru. Entah apa yang hilang dari ku…?

Kampusku sendiri adalah kampus yang teramat indah, kayaknya ini yang membuat saya betah…pemandangan danau, lapangan luas, juga hutan-hutan buatan terasa sejuk di tengah panasnya udara Kota Makassar. wah bagaimana tanggapan Ibuku bila anaknya yang jadi mahasiswa di situ belum jadi sarjana karena alasaan ingin menikmati pemandangan dan sejuknya kampus. Terlalu klise! memang aku sangat menyukai keindahan alam. Beberapa kali aku bersama kawan-kawan menjelajahi Gunung di Lembanna Malino, Goa Purba di Pangkep-Maros, Pulau Cangke di gugusan kepulauan Pangkep, pantai Bira di Ujung Bulukumba sampai Pekuburan bangsawan Toraja di Kete’ Kesu. Semua itu tak terlupakan, enaklah jadi mahasiswa yang cinta sama alam. Kulit kakiku bisa menyentuh langsung pasir Putih di Bira, bisa pegang-pegang tengkorak di kuburan Toraja, tidur-tiduran di samping Air terjun di Malino sampai main bola di pulau Cangke yang hanya di huni sepasang suami istri. Memang beda rasanya jika langung berada di tempatnya daripada hanya mempolototinya melalui gambar-gambar promosi wisata (pemirsa apa tulisannya sudah betul?) sambil iler mengalir karena ke ingin melancong ke sana. Ibuku mungkin bangga anaknya sudah meliat-liat kalo sulawesi selatan itu unik dan indah.

Tapi bisakah diterima alasanku ini, bagaimana pun juga ketika seorang masuk ke perguruan tinggi tiada yang lain selain Gelar. Dunia kerja pun pasti melihat titel di belakang namaku. Boleh di bilang aku adalah produk gagal dari pabrik manusia handal bernama Kampus. Nasibnya kemudian adalah terbuang. Kemarin Ibu menelpon, beliau sangat khawatir dengan keadaanku apalagi setelah mendengar kabar dari orang-orang kampung jika saya tak selesai tahun ini maka akan segera di pulangkan atau DO ( Drop Out ). Kutenangkan Ibuku, aku bilang kalo aku pasti bisa selesai sebelum di DO. Kucoba untuk membuatnya bersabar…sekali lagi!

Advertisements